Pengemudi Doyan Alkohol Memperlambat Otak dan Reaksi

Oleh Redaksi Otosia pada 06 Nov 2012, 07:04 WIB
Diperbarui 06 Nov 2012, 07:04 WIB
Ilustrasi mobil yang dipakai Novi Amalia dan Afriani Susanti setelah mengalami kecelakaan
Ilustrasi mobil yang dipakai Novi Amalia dan Afriani Susanti setelah mengalami kecelakaan

Otosia.com Defensive driving adalah perilaku mengemudi yang memungkinkan pengendara terhindar dari masalah, baik yang disebabkan oleh orang lain atau diri kita sendiri. Lebih merupakan pendekatan intelektual tentang bagaimana cara mengemudi dengan aman, benar, efisien dan bertanggung jawab (behaviour based driving).

Menurut Indonesia Defensive Driving Center (IDDC), pengaruh lingkungan sosial mengambil peran penting dari peristiwa kecelakaan lalu lintas, seperti alkohol dan obat-obatan. Tentu masih ingat kasus pengemudi teler Novi Amalia dan Afriani Susanti yang melibas banyak orang di jalan.

Pengaruh alkohol dan obat-obatan sangat kuat. Pemakaiannya akan memperlambat proses berpikir kita sehingga perlu waktu lebih lama untuk bereaksi. Menimbulkan cara berpikir yang salah hingga mempengaruhi persepsi jarak, kecepatan serta mengurangi koordinasi, menuju pada kecelakaan yang seharusnya bisa dihindari.

Alkohol akan langsung mempengaruhi pemakainya, dan efeknya akan hilang dalam waktu yang relatif  lama. Tidak ada ukuran pasti berapa gelas minuman agar kita bisa mengemudi dengan aman.

Kemampuan manusia untuk menyerap alkohol dalam tubuh berbeda, tergantung jenis kelamin, berat, sistem metabolisme tubuh, jenis minumannya dan makanan yang dimakan sebelumnya.

Alkohol (Bir,Wine,Cocktail, dan sejenisnya) menyebabkan perubahan koordinasi pikiran, pengelihatan dan refleks, kehilangan kemampuan berpikir secara jernih dan mengurangi kemampuan bereaksi.

Sementara obat-obatan, misal depressants (alkohol, pil tidur) melemahkan koordinasi sistem susunan syaraf pusat. Pada stimulants (amphetamines, shabu-shabu) merangsang  atau menstimulasi sistem susunan syaraf pusat.

Selanjutnya hallucinogens (marijuana, LSD, hashish) dapat merubah persepsi otak, dan narcotics (reroin, Cocaine, morphine, putauw) dapat melemahkan syaraf reaksi secara kuat.

Gangguan lain dalam berkendara juga harus diperhatikan oleh para pengemudi. IDDC menjelaskan, banyak hal yang harus diperhatikan saat berkendara. Pengemudi harus memperhatikan sekitar kendaraan. Pengemudi harus memastikan pengguna jalan lain mengetahui keberadaan kita dan apa yang akan kita lakukan.

Pengemudi  harus tetap menyesuaikan kecepatan dan posisi kendaraan selama mengemudi. Selalu siap dengan adanya hal yang tidak terduga yang mungkin membahayakan. Dalam mengemudi terdapat dua jenis gangguan, yakni internal dan eksternal.

Merokok saat mengemudi dianggap sebagai gangguan karena dapat memecah konsentrasi. Mengemudi sambil merokok berarti menempatkan Anda dan penumpang dalam kondisi bahaya karena konsentrasi terganggu. Untuk alasan yang sama, jangan makan dan minum sambil mengemudi

Penggunaan ponsel juga disarankan tidak dilakukan saat mengemudi, sekalipun memakai handsfree. Pemakaian ponsel ketika berkendara di beberapa negara dilarang. Menggunakan HP sambil mengemudi akan menyumbangkan satu dari setiap empat kecelakaan mobil.

Menurut data statistik internasional terjadi 1,5 juta kecelakaan setiap tahunnya, atau lebih dari 4.000 kecelakaan setiap harinya.

Penelitian Internasional menunjukkan bahwa menggunakan handphone saat mengemudi lebih berbahaya dibandingkan dengan pengaruh alkohol. Bahaya ponsel bukan pada cara kita menggunakannya, tetapi lebih pada topik pembicaraan atau apa yang sedang kita bicarakan saat itu.

Penelitian Internasional juga membuktikan hands-free sama bahayanya karena konsentrasi kita yang terpecah. Perlu diingat, membiarkan konsentrasi kita terganggu saat mengemudikan kendaraan dapat menyebabkan celaka.

Sebelum GIIAS 2022
b[/b]
Berita Terkini Selengkapnya