Penjualan Mobil Sampai September Tembus 732 Unit, Retail Sales Daihatsu Naik 36 Persen

Oleh Nazarudin Ray pada 15 Okt 2022, 17:16 WIB
Diperbarui 15 Okt 2022, 17:16 WIB
Penjualan Mobil Sampai September Tembus 732 Unit, Retail Sales Daihatsu Naik 36 Persen
Ilustrasi booth Daihatsu di Jakarta Auto Week beberapa waktu lalu (ADM)

Otosia.com, Jakarta Sejalan mulai meredanya pandemi COVID-19, penjualan otomotif nasional mulai bangkit. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), sepanjang Januari - September 2022, penjualan retail mobil nasional mencapai sekitar 732 ribu unit.

Hasil tersebut menandakan kenaikan penjualan otomotif sekitar 22% dibandingkan periode yang sama tahun 2021 lalu sekitar 600 ribu unit.

Video Paling Dicari saat Ini

Penjualan Retail Daihatsu

Penjualan Mobil Sampai September Tembus 732 Unit, Retail Sales Daihatsu Naik 36 Persen
Sigra menjadi model terlaris Daihatsu sampai kuartal ketiga 2022 (ADM)

Kenaikan penjualan otomotif nasional turut mendongkrak retail sales Daihatsu. Pada periode yang sama, hingga kuartal III Daihatsu mencatatkan penjualan ritel sebanyak 140.894 unit, atau naik sekitar 36% dibandingkan periode yang sama tahun 2021 lalu sejumlah 103.788 unit.

Secara persentase, raihan penjualan ritel Daihatsu selama 9 bulan ini lebih besar dibandingkan pasar otomotif nasional.

Selain itu, market share Daihatsu juga meningkat menjadi sebesar 19,2%, naik sebesar 1,9% dibandingkan YTD September 2021 sebesar 17,3%.

Sigra Terlaris

Dari total penjualan retail Daihatsu sampai Seoptember 2022, kontribusi terbesar datang dari tiga model. Sigra menjadi penyumbang terbesar dengan angka penjualan sebanyak 35.200 unit, atau berkontribusi sekitar 25%.

Posisi kedua ditempati Gran Max PU (Pick Up) sebanyak 33.360 unit (23%), dan Xenia yang terjual sebanyak 18.651 unit (13%).

“Daihatsu bersyukur dapat meraih hasil penjualan dengan capaian positif. Raihan hingga Kuartal III ini bahkan telah melebihi capaian Daihatsu pada periode yang sama tahun 2019 lalu ketika sebelum pandemi Covid-19 terjadi. Semoga raihan positif ini dapat terus berlanjut, dan lebih baik dari tahun sebelumnya,” ujar Hendrayadi Lastiyoso, Marketing & Customer Relations Division Head PT Astra International Daihatsu Sales Operation (AI-DSO).

Relokasi Pabrik

Sementara itu PT Astra Daihatsu Motor (ADM) mengaku bahwa mereka sedang mempersiapkan relokasi jalur produksi mereka yang sebelumnya berjalan di Sunter, Jakarta. Jalur produksi yang merupaka jalur 1 atau line 1 ini akan dipindahkan ke Karawang, Jawa Barat.

Domestic Marketing Division Head ADM, Rudy Ardiman, mengatakan bahwa perpindahan ini dilatarbelakangi poin utama untuk menata ulang terkait rencana-rencana ke depan jika ingin melakukan modernisasi.

"Line akan dipindahkan ke Karawang. Poinnya manage kapasitas produksi tidak kurang dengan rencana perpindahan ini. Untuk memindahkan perlu kajian, steping. Kami jajaki dulu. Ada modernisasi pabrik, proses produksi yang lebih support lingkungan. Perlu tahapanlah tidak memungkinkan sekaligus," ujarnya.

Beroperasi Selama 27 Tahun

Line 1 pabrik di Sunter diperuntukkan bagi model Xenia-Avanza dan Terios-Rush. Menurutnya, line itu sendiri sudah digunakan selama 27 tahun untuk berproduksi.

Karena itu, pengembangan modernisasinya disebut akan sangat terbatas, baik dari sisi lahan, line, dalam mendukung program pemerintahan terkait lingkungan, inovasi yang lebih baik, maupun hingga kualitas yang lebih baik.

"Masih dalam tahap rencana, 2024-2025. Ini sifatnya relokasi," ujarnya seraya menyebut bahwa terkait investasi tentu dibutuhkan tetapi mohon maaf belum bisa disampaikan.

Alasan Dipindah

Kenapa pindah? Selain mempertimbangkan jika terjadi modernisasi, relokasi juga terkait dengan kesiapan jika adanya permintaan market.

"Salah satunya kita harus siap memenuhi permintaan market. Kalau di sini, akan kesulitan. Kalau lahan baru, kita bisa mensupport produk baru, kendaraan baru," ujarnya.

Apakah ini pertanda bahwa Astra Daihatsu sudah merasa yakin untuk mempersiapkan produksi kendaraan listrik?

"BEV (kendaraan listrik) itu sifatnya obyektif. Yang penting kami siap RND, belum sampai sejauh mana. Jadi karena ini membutuhkan kapabilitas dulu, sebelum membangun produk baru. Tahapannya masih dalam learning. Bagaimana environment, ekosistem internal sendiri, apa sih yang dibutuhkan. Charging station juga masih kami pelajari," ujarnya.

https://www.newshub.id/interactive2/3791

 

Lanjutkan Membaca ↓
Berita Terkini Selengkapnya