Tes Yamaha Xabre, Menjejak Rindu di Tanah Becek

Tim Otosia telah menguji coba Yamaha Xabre terbaru. Dengan berbagai macam kecanggihan yang dimiliki, begini sensasi berkendaranya.

Rabu, 24 Februari 2016 11:15
Tes Yamaha Xabre, Menjejak Rindu di Tanah Becek Yamaha Xabre (Foto: Otosia.com)

Editor : Fitradian Dhimas

Otosia.com - Ketika seseorang memilih sesuatu untuk dibeli karena suka, tentu itu karena keinginan merasakan sesuatu yang menyenangkan secara berulang-ulang.

Lalu kami suatu kali punya kesempatan mencoba Yamaha Xabre, MT-15 versi Indonesia yang bisa diumpamakan sebagai satu paket komplet "alat transportasi, sekaligus mainan baru, sekaligus menuai rindu demi rindu untuk menungganginya lagi".



Bagi yang sudah kesengsem dengan supermoto, Xabre yang datang dari jajaran premium Yamaha ini membuka jalan plus menyuguhkan sesuatu yang berbeda.

Apalagi, Jakarta yang akan menjadi medan jalan kami ini sedang rapat-rapatnya untuk dibangun.

Bongkahan jalan di sana-sini, bongkaran trotoar di kanan-kiri, semen-semen berceceran dan mengeras, lalu jalur yang masih harus berbagi lagi, padahal sebelumnya sudah padat. Total, semuanya menyisakan sebuah "trek dadakan".

Di sini, Xabre tercipta pada medannya.

Sosoknya yang sedikit jangkung, membentuk postur biker layaknya duduk di supermoto, dan sekelumit lainnya akan dijabarkan di halaman berikutnya.


1 dari 4 Halaman

Sistem Elektronik

Sistem Elektronik

Rupa-rupanya, Xabre belum apa-apa sudah jadi "mainan" kala kita menunggangi dan bersiap jalan.

Cara kerja starternya tidak umum. Jika tombol start minimalis biasanya ditekan, tombol di Xabre sedikit memanjang.

Kalau tidak biasa, pengendara akan cari tahu terlebih dahulu urusan mengaktifkan on/off mesin.

Caranya dengan ditekan lalu diturunkan ke bawah untuk menyalakan mesin. Lalu untuk mematikan mesin, tinggal tekan tombol ke atas.

Sebelum melesat, kami memperhatikan panel indikator digital Compact Full digital LCD dengan digital Instrument Cluster tipe Negative (Multi display information). Desainnya terlihat minimalis. Namun, setidaknya ada tiga tingkat pencahayaan.

Jika kunci kontak dalam keadaan “on”, untuk mengatur pencahayaan, tinggal memilih menu BL, lalu tekan select. Butuh waktu 3 detik sampai tulisan BF berkedip.

Nah, selanjutnya setel tingkat cahaya yang diinginkan sesuai kebutuhan. Yamaha memberi pilihan cahaya berwana biru, bukan kuning seperti motor kebanyakan.



Di sini, sebaiknya pilihlah tingkat pencahayaan paling terang agar area meter lebih jelas terlihat saat siang hari ataupun malam hari.

Di panel indikator digital pun terdapat fasilitas penunjuk jam dan indikasi pemakaian BBM.

Jika ingin menyetel waktu, cukup tekan dan tahan tombol, lalu pilih. Selesai. Saatnya beralih ke urusan melaju dengan Xabre.

2 dari 4 Halaman

Posisi Mengemudi

Posisi Mengemudi

Duduk di Xabre, Otosia serasa mengendarai supermoto dalam tubuh street fighter.

Maklum, desain Xabre memaksa pengendaranya untuk berposisi tegak.

Ditambah lagi, setang tegak dan desain tangki menjorok ke depan, membuat jarak badan dengan setang sangat dekat. Namun, inilah yang memungkinkan Xabre mampu bergerak lincah saat dikendalikan untuk bermanuver di jalan landai ataupun offroad.



Sementara itu, posisi pijakan kaki atau footstep sporty model underbone didesain pas untuk riding position, dalam arti tidak terlalu ke belakang, tidak terlalu ke depan. Inilah yang membuat rider merasa nyaman untuk menaikinya.

Bagaimana dengan tinggi Xabre? Lantaran jarak kursi ke tanah 805 mm, Otosia yang bertinggi 165 cm pun berjinjit dalam kondisi motor diam.

Namun, tak usah risau karena bobot Xebre terbilang ringan. Tinggal pintar-pintar menyesuaikan dan membiasakan diri menunggangi Xabre.

Jika bikers terbiasa mengendarai trail atau supermoto, membesut Xabre tidaklah sulit, walau jarak pijak ke tanah cukup tinggi.

Jika tidak, memang dibutuhkan penyesuaian lebih lanjut, dan ada satu lagi yang baru bagi mereka yang tidak biasa dengan supermoto.

3 dari 4 Halaman

Kemampuan Bermanuver

Kemampuan Bermanuver

Dalam tes, selepas Kemayoran, maka jejeran mereka yang terburu-buru selepas lampu hijau akan mudah ditemui di area Gunung Sahari.

Jika berada di sela-sela mobil pada jam-jam berangkat kerja, butuh kesabaran untuk tidak beradu cium dengan spion mobil di kanan kiri. Pasalnya, lebar setang Xabre 792 mm.

Puas sempil-menyempil, trek jalan rusak adalah santapan berikutnya. Kawasan utara Jakarta-lah yang dipilih Otosia.

Jalur truk-truk kontainer, pergudangan, mulai dari Marunda, Cilincing, kawasan Sunter, hingga Pluit, dan area Sunda Kelapa jadi tempat "piknik" kami kali ini.

Sesekali Otosia menguji adrenalin, bemanuver gesit di deretan dan celah terbatas kontainer atau truk-truk besar untuk sekadar menguji akselerasi. Xabre "menari lincah" di sela-sela ban besar. Ini bahaya sih, dan tidak patut ditiru.

Lalu beres urusan "menari" bersama truk, saatnya main dengan kubangan lumpur.

Di utara ini, kubangan komplet berbatu sebesar kepalan tangan hingga kepala manusia, dan aspal yang tidak rata, hingga lubang memanjang di beton aspal.

Otosia pun memberanikan diri membesut 40-50 km/jam di jalanan yang acak-acakan ini.

Semua dilibas Xabre tanpa kendala. Walaupun setang dan bodi geol-geol, Otosia menjaga keseimbangan bak seorang kroser untuk tetap melaju tanpa jatuh.

Ban pun sedikit sliding sehingga harus ekstra hati-hati agar tidak terjerembab akibat licinnya tanah.

Sesekali, kaki ikut turun dan badan berdiri menjaga keseimbangan, bergaya ala supermotoris. Semua dilalui aman menjejak tanpa insiden. 

Ini semua berkat shockbreaker depan yang mengadopsi upside down dari produk Kayaba sehingga rebound menjadi lebih enak dan stabil, ditambah ukuran ban lebar IRC Exato 110/70 (depan) dan IRC Exato 130/70 (belakang).

Kestabilan menapaki trek tidak beraturan juga ditopang lengan ayun aluminium yang lebih panjang 5 mm dibanding lengan R15.

Otosia merasa ketagihan menjadi seorang supermotoris. Kelebihan Xabre membuat Otosia rindu menapak tanah yang tidak datar, untuk sekadar menikmati goyangan kala duduk di atas joknya dan memuntir gas seenaknya di trek rusak.

4 dari 4 Halaman

Kepercayaan Diri Dalam Berkend

Kepercayaan Diri Dalam Berkend

Sayang, test ride hanya dibatasi area Jakarta, sedikit menyerempet ke Bogor atau perbatasan Tangerang dalam waktu seminggu.

Tentu muncul di benak, bagaimana rasanya jika Xabre berlari kencang di jalan lapang.

Kami langsung menjawabnya di sekitaran Parung arah Bogor, mencoba-coba jam sepi. Namun, di sini, kami hanya membatasi kecepatan 100-120 km/jam untuk menjawab pertanyaan ini.


Pada putaran rendah, akselerasi cukup menghentak. Namun, pada kisaran 5.000 rpm, tenaga terasa tidak begitu "meledak".

Rupanya, "ledakan" justru terjadi mulai 6.000 rpm ke atas. Xabre melesat dengan nafas panjang.

Tidak bisa dibantah, rangka deltabox membuat rider percaya diri bermanuver. Handling motor pun terasa rigid sehingga saat dibesut cepat, Xabre stabil, termasuk ketika dipakai zigzag.



Ada sedikit catatan saja, getaran gemuruh di girboks terasa besar. Namun, itu tidak masalah karena perpindahan gigi begitu halus.

Saking halusnya, ketika engine break atau turun ke gigi rendah, tidak ada sentakan menyendat.

Singkatnya, kami cuma akan makin sayang buat motor ini. Ah, dasar Xabre, bikin rindu-rindu ketagihan.

(kpl/why/fdk)

KOMENTAR

Dapatkan Mobil Idaman DenganKondisi Istimewa
Pilih Mobilmu Sekarang

Daftarkan email Anda untuk berlangganan berita terbaru Kami