Subsidi BBM Berdasar Usia Mobil Tak Relevan

Dari rencana kenaikan harga, pengalihan dari BBM ke gas, dan pembatasan jenis kendaraan yang tidak boleh menggunakan BBM bersubsidi, semua menimbulkan masalah. Pemerintah tidak mampu menjawab tantangan kesiapan infrastruktur ketika rencana pembatasan BBM dicanangkan, termasuk melupakan dampak sisi politik yang mengemuka.

Senin, 16 April 2012 15:35
Ilustrasi SPBU (Foto: Nazar Ray)
Editor : Anton
Kapanlagi.com - Pembatasan bahan bakar minyak (BBM) premium di Indonesia oleh pemerintah dinilai sebagai kebijakan yang tergesa-gesa. Pemerintah kurang mampu merangkum permasalahan secara komprehensif.

Dari rencana kenaikan harga, pengalihan dari BBM ke gas, dan pembatasan jenis kendaraan yang tidak boleh menggunakan BBM bersubsidi, semua menimbulkan masalah. Pemerintah tidak mampu menjawab tantangan kesiapan infrastruktur ketika rencana pembatasan BBM dicanangkan, termasuk melupakan dampak sisi politik yang mengemuka.

"Masalah BBM sebenarnya berasal dari kebijakan yang sudah bertahun-tahun tidak dibenahi secara serius, sejak dari sisi hulu sampai hilir, ditambah sistem distribusi yang tidak efisien seperti penyelundupan dan sebagainya, sampai pada infrastruktur yang buruk, yang memperbesar pemborosan," ujar Soehari Sargo, pengamat otomotif kepada Otosia.com, Minggu (15/4).

Selain sosialiasi yang yang kurang, mekanisme pembatasan BBM bersubsidi membuat masyarakat menjadi bingung. Belum ada aturan yang jelas dan tegas tentang tahun produksi dan kapasitas mesin mendetail yang diperbolehkan menggunakan BBM premium.

"Sosialisasi dengan sendirinya juga tidak efektif dan selalu mengandung kelemahan. Misalnya dari iklan yang tidak tepat serta efektif, sampai masalah teknis yang tidak dirinci secara jelas. Kebingungan masyarakat mudah menjalar menjadi reaksi yang tidak terkendali, bahkan menjurus ke aksi-aksi," lanjutnya .

Menurut Soehari, aturan tentang tahun produksi dan kapasitas mesin sangat tidak relevan, karena masalahnya ada pada teknologi kapasitas mesin. Ia mencontohkan, sebuah mobil tahun 1997 dengan kapasitas 2.000 cc sangat nyaman dan irit dengan BBM non-subsidi.

"Jadi aturan pembatasan jenis kendaraan berdasarkan cc atau tahun pembuatan, sebenarnya tidak tepat. Semua jenis dan tahun pembuatan bisa, dan lebih efektif atau hemat jika memakai BBM nonsubsidi. Masalahnya hanya tinggal penyesuaian atau penyetelan mesin," pungkas Soehari. (kpl/nzr/bun)

TAGS :
KOMENTAR

BERITA TERKAIT





Dapatkan Mobil Idaman DenganKondisi Istimewa
Pilih Mobilmu Sekarang

Daftarkan email Anda untuk berlangganan berita terbaru Kami