Notice: Undefined variable: extra_css in /data/otosia/m/application/m/view/template/header.php on line 375

Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /data/otosia/m/application/m/view/template/header.php on line 375

Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /data/otosia/m/application/m/view/template/header.php on line 379

Sindikat Pemesan Taksi Online Fiktif Kantongi Untung Hingga Rp 150 Juta Per Bulan

Sindikat pelaku order fiktif taksi online akhirnya diringkus Subdit V/Siber Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jawa Timur. Dalam aksinya, sindikat ini berhasil meraup keuntungan hingga Rp 150 juta.

Kamis, 15 Maret 2018 16:50
Sindikat Pemesan Taksi Online Fiktif by Liputan6.com
Editor : Dini Arining Tyas
Reporter : Dini Arining Tyas

Otosia.com -

Sindikat pelaku order fiktif taksi online akhirnya diringkus Subdit V/Siber Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jawa Timur. Dalam aksinya, sindikat ini berhasil meraup keuntungan hingga Rp 150 juta.

Kelimanya adalah DCT (35) warga Genteng Surabaya, MGH warga Mulyorejo Surabaya, JS (33) warga Semarang Jawa Tengah, KDSK (26) warga Genteng Surabaya, dan MH (35) warga Wiyung Surabaya.

Dilansir dari Liputan6.com, Wadireskrimsus Polda Jatim menjelaskan kelimanya beroperasi dengan cara memanipulasi dua hal yakni memalsukan order taksi online dan akun pengorder. Modusnya, mereka memesan khusus pengambilan dengan sistem frekuensi atau kuantitas. Mereka ingin mendapatkan bonus dari perusahaan taksi online sebesar Rp 120.000 secara mudah.

"Kita sudah mengecek melalui akun-akun yang memang dilakukan oleh mereka sendiri, secara berkelompok. Kemudian dia mengambil kuantitas sebanyak 20 kali, sehingga dia mendapatkan Rp 120 ribu per 10 kali, kadang sampai RP 400 ribu," jelasnya.

Sindikat ini sudah beraksi selama setahun terakhir. Setiap bulan mereka berhasil mengantongi keuntungan sebesar Rp 30 juta hingga Rp 150 juta. "Dilakukan sudah berkali-kali dan berulang-ulang, semata-mata untuk mendapatkan komisi dari pihak Grab," tambahnya.

Kini kelimanya terancam hukuman pidana penjara selama 12 tahun. Kelimanya melanggar Undang-Undang RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, juncto Pasal 378 KUHP.

SUDAH BACA INI BELUM?

(kpl/tys)
TAGS :
KOMENTAR

BERITA TERKAIT





Dapatkan Mobil Idaman DenganKondisi Istimewa
Pilih Mobilmu Sekarang

Daftarkan email Anda untuk berlangganan berita terbaru Kami