Seberapa Butuh Jalur Khusus Sepeda Ada di Jalan Tol?

Beredarnya informasi bahwa Pemprov DKI Jakarta meminta izin menggunakan satu ruas jalan tol untuk jalur khusus sepeda menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan.

Sabtu, 29 Agustus 2020 11:45
Seberapa Butuh Jalur Khusus Sepeda Ada di Jalan Tol? Jalur khusus sepeda (Merdeka.com)

Editor : Dini Arining Tyas

Otosia.com - Jalur khusus sepeda di jalan Tol yang diminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjadi topik yang kini menjadi sorotan. Diketahui, Pemprov DKI mengirimkan surat pengajuan permohonan kepada Kementerian PUPR untuk hal tersebut.

Pemprov DKI meminta izin memakai satu ruas jalan tol sebagai jalur khusus sepeda setiap Minggu pagi. Jalur yang dipilih berada di kawasan Tol Dalam Kota, tepatnya arah Cawang menuju Tanjung Priok.

Surat tersebut dilayangkan pada 11 Agustus 2020 lalu. Permohonan tersebut mempertimbangkan jumlah pesepeda di Jakarta yang terus meningkat selama pandemi.

"Berkenaan dengan hal tersebut, mohon kiranya Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dapat memberikan izin pemanfaatan 1 ruas jalan Tol Lingkar Dalam Jakarta (Cawang-Tanjung Priok) sisi Barat sebagai lintasan road bike guna mengakomodir pengguna sepeda pada setiap hari Minggu pukul 06.00-09.00," kata Anies dalam surat tersebut, dikutip dari Merdeka.com.

Secara rinci, Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Syafrin Liputo, menjabarkan saat ini jumlah pesepeda yang memanfaatkan kawasan Sudirman dan Thamrin sangat padat. Sehingga muncullah wacana tersebut. Itupun, kata dia, hanya untuk jenis sepeda road bike atau sepeda balap saja. Saat ini, pihaknya menanti keputusan dari Kementerian PUPR.

"Jadi menyiapkan satu jalur sendiri sebagai jalur sepeda sementara untuk road bike. Tapi ini masih dalam pembahasan ya, kita masih menunggu persetujuan dari Pak Menteri," jelas Syafrin.

 

 

 

1 dari 5 Halaman

Surat Diterima

Pihak Kementerian PUPR melalui Badan Pengatur Jalan Tol (BPTJ) mengaku sudah menerima surat permohonan dari Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Tetapi belum bisa langsung diputuskan karena masih perlu dibahas mendalam terutama dalam sisi keamanan dan keselamatan.

"Baru kami evaluasi di Bina Marga dan BPJT. Idenya seperti car free day di Jakarta, atau Bali Marathon di tol Bali Mandara," kata Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian PUPR, Danang Parikesit, kepada merdeka.com, Rabu (26/8/2020).

Rencana ini menuai pro dan kontra. Sebagian kalangan menilai sah saja demi mengakomodir warga yang ingin berolahraga sepeda. Tetapi tak sedikit yang menolak karena sangat membahayakan baik untuk pesepeda maupun pengendara kendaraan roda empat atau lebih.

2 dari 5 Halaman

Pro dan Kontra

Pro dan Kontra

Anggota Komisi V DPR RI, Irwan, mengatakan Kementerian PUPR harus mengkaji betul usulan Pemprov DKI yang ingin menggunakan satu ruas jalan tol dalam kota (Cawang-Tanjung Priok) untuk jalur sepeda di minggu pagi. Dia mengingatkan tujuan dan syarat jalan tol yang diatur dalam undang-undang.

"Pertimbangkan benar-benar terkait tujuan penyelenggaraan dan syarat-syarat jalan tol seperti yang diatur dalam undang-undang," ujar Irwan melalui pesan singkat, Kamis (27/8/2020).

Irwan mengatakan, tol mempunyai spesifikasi dan pelayanan lebih tinggi dibanding jalan umum. Dia tidak melihat ada urgensi dipergunakan untuk jalur sepeda walau hanya dalam waktu singkat.

"Saya tidak melihat keadaan khusus atau tertentu yang mengharuskan jalan tol itu jadi fungsional khusus untuk sepeda walaupun sekedar diperuntukkan 3 jam di pagi setiap hari minggu," kata dia.

3 dari 5 Halaman

Tak Hanya Bahaya, Tapi juga Merugikan

Anggota Komisi V DPR lainnya juga tak sepakat. Achmad Syaikhu dari Fraksi PKS tak setuju dengan usulan itu karena membahayakan pesepeda.

Selain itu, lanjutnya, penggunaan jalan tol bagi pesepeda tiap hari Minggu, dikhawatirkan mengganggu pengguna jalan tol. Sebab, hak pengendara jalan tol dikurangi karena ada penerapan contraflow akibat dari penutupan sementara pada satu jalur jalan tol tersebut.

"Jelas ini akan merugikan pengguna jalan tol. Padahal mereka sudah membayar," ujar dia.

Lain pula pandangan Komisi B DPRD DKI Jakarta. Meski tak secara langsung menyetujui, Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta, Abdul Aziz, meminta Pemprov DKI terlebih dahulu memastikan keamanan jalur Tol Cawang-Tanjung Priok bila satu ruasnya dimanfaatkan untuk pesepeda.

"Ya karena ini baru bersifat permohonan, dan permohonan itu hak gubernur dan bisa dieksekusi bila diizinkan oleh Menteri PUPR. Sebelum dieksekusi kami akan memastikan keamanannya, apabila syarat-syarat keamanan tidak terpenuhi, kami akan memberikan rekomendasi untuk membatalkannya demi keselamatan warga," kata Aziz, Rabu (26/8/2020).

Menurutnya apa yang dimohonkan oleh Pemprov DKI Jakarta tidak salah. Apalagi bila mengingat jumlah pesepeda di Jakarta meningkat signifikan selama pandemi Covid-19 berlangsung.

Informasi yang dia peroleh dari Dinas Perhubungan, jalur itu hanya dikhususkan untuk sepeda balap. Menurutnya, jika hal itu benar memang sebaiknya sepeda balap lebih aman di jalur khusus ketimbang di jalan yang sama dengan kendaraan lainnya.

4 dari 5 Halaman

Kata Warga Jakarta

Meski rencana ini masih dibahas, memang perlu keseriusan jika ingin benar-benar diterapkan. Mengingat rencana tersebut menyangkut keselamatan warga. Tetapi setujukah para pencinta sepeda dengan rencana itu.

Achmad mengaku belum bisa membayangkan konsepnya seperti apa jika diterapkan sehingga dia belum bisa memberikan sikap apakah setuju atau tidak dengan usulan itu.

"Belum kebayang sih penerapannya kayak apa, cuma rada ngeri juga tau sendiri Tol kan kendaraan kencang-kencang, " katanya kepada merdeka.com.

Ayu memilih menggowes sepeda nya di jalur reguler saja. Menurutnya sangat membahayakan apalagi bila tak semua pengguna tol hafal dengan kondisi jalan.

"Aduh serem lah, mobil aja udah nyeremin gimana kalau yang lewat bus atau truk, " kata wanita berhijab yang baru menggemari sepeda beberapa waktu terakhir.

5 dari 5 Halaman

Institute for Transportation & Development Policy (ITDP) justru memiliki analisis lain. Manajer Komunikasi dan Partnership ITDP Indonesia, Fani Rachmita, menilai wacana itu baik mengingat road bike dengan kecepatan tinggi memang membutuhkan jalur khusus.

"Memang ada kebutuhan lintasan road bike, sepeda yang dikhususkan untuk berolahraga dengan kecepatan setara kendaraan bermotor dan berkelompok. Niat untuk mengakomodir mereka ini dirasa baik," katanya saat berbincang dengan merdeka.com, Kamis (27/8/2020) siang.

Hanya saja, katanya, sangat perlu diperhatikan faktor keselamatan baik pesepeda maupun kendaraan lain.

"Misal, infrastruktur yang aman serta peraturan dan pengawasan ketat bahwa hanya pesepeda yang dimaksud yang boleh melintas di sini, " katanya.

Data yang dimilikinya ITDP saat ini, sambung Fani, jumlah pesepeda di Jakarta khususnya di akhir pekan mencapai 2.000 sampai 3.000 sepeda per jam. Jumlah itu hitungan pukul 6 hingga 9 pagi yang menjadi waktu paling banyak warga bersepeda.

Dia yakin ada pertimbangan sendiri yang dipikirkan Pemprov DKI Jakarta sehingga memilih satu ruas tol ketimbang sejumlah ruas jalan regular Jakarta lainnya.

"Kalau menurut kami mungkin pertimbangannya karena karakteristik pesepeda yang dimaksud itu. Kecepatan sangat tinggi dan rombongan. Ketika mereka beraktivitas di jalan dalam kota, bukan hanya bahaya bagi pengendara lain tapi juga pesepeda lain yang kecepatannya jauh di bawah mereka. Pun apabila ada kawasan yang clear dari kendaraan bermotor, kecepatan mereka yang bisa sampai 60km/jam dan rombongan ini bisa tidak aman buat pesepeda santai dan pejalan kaki," tutup Fani.

(kpl/tys)

KOMENTAR

Dapatkan Mobil Idaman DenganKondisi Istimewa
Pilih Mobilmu Sekarang

Daftarkan email Anda untuk berlangganan berita terbaru Kami