Disparitas Harga Pertamax dengan Pertalite Dinilai Ciptakan Maling, Pebisnis Pertashop Jadi Korban

Oleh Ahmad Muzaki pada 02 Okt 2022, 12:00 WIB
Diperbarui 04 Okt 2022, 08:54 WIB
Salah satu Pertashop di Wonosobo (Urip Widodo)
Salah satu Pertashop di Wonosobo (Urip Widodo)

Otosia.com, Jakarta Memang benar harga Pertamax telah diturunkan per 1 Oktober 2022 kemarin, hanya saja ini masih menuai polemik, terutama di kalangan pebisnis Pertashop. Sebab disparitas atau perbedaan harga antara Pertamax dan Pertalite dinilai masih terlalu tinggi.

Bahkan Wakil Paguyuban Pertashop Wonosobo, Urip Widodo menilai jika disparitas harga ini malah menciptakan maling.

"Harga terlalu tinggi antara subsidi Pertalite dengan Pertamax secara langsung atau tidak langsung, bukan menuduh tapi menduga saja bahwa pemerintah membuat masyarakat menjadi maling," katanya saat dihubungi Otosia pada Sabtu (1/10/2022).

"Harga yang terlalu jauh itu membuat masyarakat mencari cara untuk mencuri kemudian menjualnya ke pengecer, artinya pengedar BBM subsidi itu sekarang sangat luas," lanjutnya lagi.

Video Terpopuler saat Ini

Aturan

Sebenarnya Urip dan teman-teman pebisnis Pertashop tak mau menyalahkan mafia yang bermain di balik hal ini. Hanya saja mereka benar-benar menyayangkan disparitas harga yang terlalu tinggi.

"Jadi saya tidak menyalahkan Pertamini atau pengecer di desa, juga tidak sepenuhnya menyalahkan mafia atau maling di SPBU, tapi menyalahkan aturan kok bisa dengan harga tinggi (disparitas) sebegitu banyak. Itu kan menjadikan orang mempunyai kesempatan untuk bagaimana cara mencari uang. Banyak orang beramai-ramai membuat cara, ada yang memanipulasi mobil dikasih tangki dalamnya, ada yang pakai jeigen, dan lain-lain," imbuhnya.

Meski nasib bisnis Pertashop seperti mati suri, namun Urip dan teman-temannya tak mau patah semangat. Mereka tetap optimis di tengah gelombang naik turunnya harga BBM.

"Walaupun seperti ini karena jiwanya bisnis ya tetap optimis, kita menghadapi gelombang apapun dengan harga yang berubah-ubah itu tetep optimis tetap semangat terus, bahasanya tidak mau lemah," jelasnya.

Belum Ada Solusi

Dengan kondisi seperti ini, nyatanya belum ada solusi dari pemerintah. Akan tetapi mereka tetap melakukan tuntutan, berharap agar segera diberikan solusi, salah satunya Pertashop bisa menjual Pertalite.

"Sekarang harga dua BBM itu yang membuat pengusaha pebisnis kerepotan dalam menjual (Pertamax), yang mana sebetulnya dari pengusaha pertashop unitnya tidak ada di jalan besar atau di kota, adanya di desa-desa. Harapan terakhir itu pertashop bisa menjaul BBM subsidi untuk masyarakat yang menengah ke bawah," Kata Urip.

Urip sendiri tergabung dalam Himpunan Pertashop Seluruh Indonesia (HIPSI). Ia menceritakan bahwa para pengusaha Pertashop yang tergabung di himpunan tersebut sama-sama mengeluh. Kemudian merumuskan solusi yang diharapkan bisa dikabulkan pemerintah.

"Harapannya, satu disparitas harga itu disesuaikan, yang kedua untuk pengedaran Pertalite itu diawasi betul jangan malah diumbar, yang ketiga izin sepuluh tahun segera dikeluarkan untuk yang persyaratannya sudah lengkap. Persyaratannya itu juga mahal karena banyak izin dari dinas terkait dan survey juga mahal," jelasnya.

Sama Aja Bohong

Urip pun mengomentari penyesuaian harga Pertamax pada 1 Oktober 2022 kemarin. Menurutnya penurunan harga Pertamax tak berdampak apapun pada pebisnis Pertashop.

"Nggak ada pengaruh sama sekali, turun Rp600 sama juga bohong, malah cuma merugikan yg baru curah," katanya.

Ia pun berharap agar selisih harga antara Pertamax dan Pertalite Rp2 ribu. "Harapan kami turun Rp2 ribu, sekalian rugi tapi pembeli otomatis pindah ke Pertamax," katanya.

"Selisih Pertamax Pertalite Rp2 ribu. Harga Pertalite Rp10 ribu sedangkan Pertamax Rp12 ribu," imbuhnya.

Pendapatan Anjlok

Sejak terjadinya kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu, Urip menjelaskan bahwa pendapatan Pertashop turun drastis. Bahkan jika dikalkulasi pendapatan harian turun hingga 80 persen.

"Jauh turunnya 70% sampai 80%, yang dulunya bisa jual 1.000 liter sehari sekarang paling 200 liter," katanya.

Karena itulah pebisnis Pertashop semakin dibuat merugi. Tak lain karena ada biaya-biaya yang harus dikeluarkan setiap bulannya untuk menghidupi Pertashop itu sendiri.

"Pendapatan minim tapi tetap harus gaji karyawan, biaya listrik, bayar bank, dan lain-lainnya," kata Urip.

https://www.newshub.id/interactive2/3791

 

Lanjutkan Membaca ↓
Berita Terkini Selengkapnya