Warganet Keluhkan Kualitas Pertalite yang Boros, Pertamina Jamin Kualitasnya

Oleh Ahmad Muzaki pada 23 Sep 2022, 13:11 WIB
Diperbarui 23 Sep 2022, 13:11 WIB
Ilustrasi SPBU (Otosia)
Ilustrasi SPBU (Otosia)

Otosia.com, Jakarta BBM Subsidi jenis Pertalite terus menuai sorotan publik. Usai harganya dinaikkan, kini ada beberapa warganet yang mengeluhkan soal kualitas BBM RON 90 ini.

Penyebabnya karena Pertalite usai mengalami kenaikan harga dinilai lebih boros dalam pemakaiannya. Ini salah satunya dikeluhkan oleh seorang warganet dengan akun Er*****.

"Bukan itu masalahnya adalah meteran di Pertamina Retail COCO 31 nya yang nggak benar dan tidak seperti sebelum harga naik. Dulu itu dimulai angka 0 lalu 250 tapi sekarang dimulai angka 0 lalu 330 jelas aja lebih sedikit yang masuk ke tangki konsumen dan secara langsung merugikan konsumen. Saya selalu perhatikan dan selalu isi tangki mobil di malam hari atau di pagi hari yang tingkat memuai karena sinar matahari atau panasnya bumi tinggi tinggi. Tolong dong balikan seperti semula. Walau sudah protes tetap aja belum diubah sama pom bensinnya,” tulis akun Er*****

Kemudian ada akun Ed***** yang meraskaan hal sama, yakni konsumsi Pertalite lebih boros dari sebelumnya.

"Betul... saya juga ngisi full, tetapi langsung berkurang hampir tiga perempat setelah pulang dari Bandara mengantar anak terbang," tulis dia.

Video Terpopuler saat Ini

Jawaban Pertamina

Atas polemik yang terjadi di tengah masyarakat, PT Pertamina Persero tak tinggal diam. Melalui laman Instagram @pertamina, pihaknya menjamin kualitas Pertalite sudah sesuai Keputusan Dirjen Migar Nomor 0486.K/10/DJM.S/2017 tentang Standar dan Mutu (Spesifikasi) Bahan Bakar Minyak Jenis Bensin 90 Yang Dipasarkan di dalam negeri.

Belum lagi berdasarkan hasil uji RVP, Pertalite masih dalam batasan yang diizinkan, yaitu 45-69 kPa (Kilopascal). Parameter Reid Vapour Pressure (RVP) sendiri merupakan Batasan dalam spesifikasi Dirjen Migas yang menunjukkan tingkat penguapan pada suhu kamar.

"Pertamina berkomitmen untuk menyalurkan produk-produk BBM berkualitas sesuai dengan spesifikasi. Melalui kontrol kualitas, produk yang tidak sesuai spesifikasi tidak akan disalurkan ke lembaga penyalur," jelas Irto Ginting, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga dikutip dari Instagram @pertamina pada Jumat (23/9/2022).

Beli di SPBU

Selanjutnya Pertamina mengimbau agar konsumen membeli BBM di lembaga penyalur resmi, seperti SPBU dan Pertashop.

Diimbau juga untuk membeli BBM sesuai dengan ketentuan yang tertulis di buku panduan kendaraan.

Tak lupa juga agar selalu konsisten memilih BBM berkualitas untuk motor atau mobil kesayangan. Serta sangat tidak disarankan untuk melakukan perhatian jenis BBM dengan RON yang berbeda.

Pertalite-Pertamax Akan Dihapus pada 2023?

Pemerintah dituntut untuk menekan emisi gas buang. Salah satu yang bisa dilakukan dengan meninggalkan pengunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan RON 90 seperti Pertalite dan Pertamax (RON 92).

Kedua jenis BBM ini bisa dikategorikan memiliki nilai oktan rendah. Karena itulah kebijakan ini bisa dilakukan, penerapannya secara bertahap mulai 2023 mendatang.

Ketua Komisi VII DPR RI, Sugeng Suparwoto menjadi sosok yang memberi tuntutan itu. Sugeng menilai, permintaan itu sejalan dengan komitmen yang telah dituangkan pemerintah melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 20 tahun 2017, tentang Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru Kategori M, N, dan O.

Menurut dia, regulasi itu mengharuskan penerapan bahan bakar standar emisi Euro 4, atau jenis BBM dengan nilai oktan tinggi sekelas Pertamax Turbo (RON 98).

"Kalau menurut pribadi saya, kalau perlu kalau sudah siap secara keuangan dan juga seluruh komponennya, diputuskan tahun depan saja (penghapusan Pertalite dan Pertamax). Pertengahan tahun depan, mulai dikonsolidasikan dari sisi pengadaannya maupun harga," kata Sugeng kepada Liputan6.com, Rabu (14/9).

Bertahap

Dia meyakini, kilang-kilang yang ada di Tanah Air juga sudah siap dengan transformasi tersebut. Ambil contoh, Kilang Balikpapan yang tengah dalam proyek Refinery Development Master Plan (RDMP), sehingga bisa meningkatkan kapasitas produksi menjadi 360 ribu barel per hari.

Keyakinannya pun diperkuat oleh upaya pemerintah dan PT Pertamina (Persero) yang secara resmi bakal mulai menghapus BBM jenis Premium (RON 88) dari peredaran per 1 Januari 2023 mendatang.

"Jadi intinya, mungkin secara gradual, bertahap, tetapi pasti dengan ada periodisasi yang dipastikan, baik volume maupun harga nanti kita konsolider sedemikian rupa," ungkapnya.

"Menurut saya pertengahan tahun depan lah paling lambat (Pertalite dan Pertamax dihapus), dikonsolidasikan bertahap," tegas Sugeng.

Potensi Harga BBM Turun

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif meminta masyarakat menghemat penggunaan energi. Dalam kesempatan yang sama, Arifin juga mengungkapkan harga BBM jenis Pertalite bisa turun ke depannya.

Arifin mengatakan, menghematan energi memberikan banyak manfaat. Selain bisa mengurangi pengeluarkan, hemat energi juga bisa mengurangi emisi. Ia pun meminta masyarakat mengurangi konsumsi Pertalite dari semula 3 liter menjadi 2 liter.

"Bisa tidak kita coba dengan kesadaran menghemat energi. Gimana caranya, yang biasa keluar bensin 3 liter, bisa enggak 2 liter saja," kata Arifin di Hotel Ayana, Jakarta Pusat, Jumat (9/9).

Harga Minyak Dunia

Arifin mengatakan, harga Pertalite saat ini dipatok Rp 10 ribu per liter. Ke depan ada kemungkinan harga Pertalite turun. Penurunan ini asalkan harga minyak dunia juga terus mengalami tren penurunan.

"Nanti kita lihat (tren harga ICP), kalau harga minyak membaik, insyaallah ( (harga Pertalite turun)," kata dia.

Terkait dengan pembatasan BBM bersubsidi, pemerintah hingga kini masih melakukan pembahasan. Hanya saja masih ada pertimbangan dari beberapa pilihan kebijakan yang direncakanan akan diambil.

"Jadi sekarang sedang dibahas karena ada beberapa opsi. Kan pertimbangannya dalam, kita juga mengidentifikasi harus teliti," ungkap Arifin Tasrif.

https://www.newshub.id/interactive2/3791

 

Lanjutkan Membaca ↓
Berita Terkini Selengkapnya