Cerita 3 Peturing Mencari Jejak Kuliner Peranakan di Pantai Utara Jawa

Oleh Redaksi Otosia pada 07 Mei 2016, 08:15 WIB
Diperbarui 07 Mei 2016, 08:15 WIB
Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

Otosia.com Melakukan perjalanan jauh sambil menyicipi aneka kuliner khas di setiap daerah yang disinggahi menjadi pengalaman menarik bagi penyuka touring. Inilah yang dilakukan tiga biker yang mengusung bendera Indonesia Culinaride. Ketiga premotor tersebut adalah Andra, Harry dan Arya. Mereka membesut Suzuki Inazuma 250, moge Suzuki V-Strom 650 dan Yamaha MT-25.

Ketiganya menjelajah dari Jakarta hingga Malang Jawa Timur untuk menyusuri jejak kuliner peranakan di sepanjang pantai utara pulau Jawa. Indonesia Culinaride berusaha menggabungkan sebuah hobi berkendara sepeda motor yang juga memberitakan tempat tujuan wisata kuliner yang merepresentasikan budaya lokal. Diharapkan pemberitaan itu membawa manfaat positif bagi pelaku UKM kuliner setempat.

Mereka menyusuri kota-kota di pantai utara Jawa mulai dari Tegal, Pekalongan, Semarang, Kudus, Juwana, Lamongan, Surabaya, Mojokerto hingga Malang. Menyambangi tempat-tempat tujuan kuliner, baik yang sudah banyak dikenal maupun yang masih tersembunyi walaupun ramai dikunjungi oleh pengunjung lokal. Misalnya, belum banyak yang tahu bahwa di Tegal terdapat sebuah toko yang membuat dan menjual bakpia dengan ciri khas yang berbeda dengan bakpia di kota-kota di selatan pulau Jawa.

"Kuliner peranakan mempunyai sejarah dan perjalanan yang cukup unik sejak jaman pemerintahan Majapahit hingga sekarang. Proses asimilasi dan percampuran budaya antara perantauan dari daratan Tiongkok dan penduduk pribumi di pulau Jawa menghasilkan sebuah budaya peranakan yang menambah ragam kekayaan budaya Republik Indonesia," kata Andra, selaku leader Indonesia Culinaride.

Beberapa masakan peranakan di Indonesia mempunyai ciri khas yang unik dan berbeda dari asalnya di daratan Cina. Misalnya wedang ronde yang dibuat untuk sembahyang untuk leluhur pada bulan ke 6, tanggal 15 tahun Imlek mempunyai perbedaan dengan wedang ronde di Tiongkok.

"Wedang ronde di Tiongkok tidak menggunakan isi kacang tanah yang digiling di dalam butiran ronde. Di sana hanya merupakan butiran tepung ketan tanpa isi. Sementara di Jawa, wedang ronde telah mengalami modifikasi dengan menggunakan isi dari kacang tanah yang digiling," papar Andra.

Hal seperti itulah yang akan dirangkum oleh tim Indonesia Culinaride. Sebuah keunikan yang dihasilkan oleh proses asimilasi dan adaptasi oleh para perantauan dari negeri Tirai Bambu di pulau Jawa sejak jaman Majapahit hingga sekarang.

Tim Indonesia Culinaride akan mengunjungi tempat lokasi-lokasi dimana cerita tentang sejarah kuliner lokal terangkum. Mereka akan melakukan wawancara dengan pemilik dan pengelola kuliner. Mencatat alamat dan letak koordinat lokasi, harga jual produk mereka, jam buka toko atau warung, sejarah berdirinya usaha ini dan hal-hal yang lebih rinci lainnya.

Hal yang paling menarik yang akan coba digali adalah kisah dibalik berdirinya usaha kuliner mereka dan mengapa mampu bertahan hingga sekian tahun. Semua hal yang rinci akan disajikan kepada para pembaca melalui media online, media sosial dan e-magazine yang bebas diunduh melalui situs para pendukung perjalanan ini.

"Tujuan akhir dari perjalanan ini adalah meningkatnya pendapatan para pelaku UKM dari bidang kuliner dengan pemberitaan dari usaha mereka. Dengan meningkatnya pendapatan mereka, semoga usahanya berkembang dan mampu menarik lebih banyak tenaga kerja dan menjadi salah satu penggerak roda ekonomi negara," imbuh mereka bertiga.

"Diharapkan perjalanan ini akan membawa manfaat bagi para pembaca yang gemar melakukan perjalanan dari Jakarta menuju Jawa Timur dan menjadi panduan bagi mereka untuk mencari makanan atau oleh-oleh sesuai kegemaran masing-masing," tandas Andra.

Menjelang musim mudik, para pembaca bisa menggunakan e-magazine yang akan diterbitkan nanti sebagai panduan untuk mencari kuliner peranakan di pesisir utara Jawa. E-magazine itu akan disajikan dengan artikel, foto dan infografis yang menarik dan mudah dipahami.

Video Terpopuler dan Paling Dicari saat Ini
 (kpl/why/sno)
Berita Terkini Selengkapnya