Raup Rp 8,9 Triliun, Laba Bersih Otomotif Astra Turun

Oleh Redaksi OtosiaNazarudin Ray pada 28 Feb 2018, 18:00 WIB
Diperbarui 28 Feb 2018, 18:00 WIB
Ilustrasi : Astra Group @otosia.com/ Nazar Ray
Ilustrasi : Astra Group @otosia.com/ Nazar Ray

Otosia.com Sepanjang tahun 2017 lalu pangsa pasar sepeda motor mengalami peningkatan, namun penjualan mobil menurun di tengah ketatnya persaingan pasar. Hal ini ikut berdampak bagi penurunan keuntungan PT Astra International Tbk di sektor otomotif. Laba bersih dari divisi otomotif grup turun 3% menjadi Rp 8,9 triliun.

“Kenaikan laba bersih pada bisnis komponen tidak dapat mengimbangi penurunan penjualan mobil dan tekanan diskon yang muncul dari meningkatnya persaingan. Kinerja dari segmen sepeda motor pun relatif tidak berubah,” kata Prijono Sugiarto, Presiden Direktur PT Astra International Tbk.

Penjualan mobil secara nasional sedikit berubah menjadi 1,1 juta unit. Meski grup telah meluncurkan 11 model baru dan 11 model revamped sepanjang tahun 2017, penjualan mobil Astra menurun sebesar 2% menjadi 579.000 unit, dengan pangsa pasar turun dari 55% menjadi 54%.

Penjualan sepeda motor nasional turun 1% menjadi 5,9 juta unit. Penjualan PT Astra Honda Motor (AHM) bertahan pada 4,4 juta unit, sehingga pangsa pasarnya meningkat dari 74% menjadi 75%. Grup telah meluncurkan delapan model baru dan 18 model revamped sepanjang tahun 2017.

Sedangkan bisnis komponen PT Astra Otoparts Tbk, membukukan kenaikan laba bersih 32% menjadi Rp 551 miliar yang disebabkan oleh kenaikan pendapatan dari meningkatnya kinerja replacement market dan penjualan ekspor, serta meningkatnya kontribusi laba bersih dari perusahaan patungan dan entitas asosiasi.

Jasa keuangan
Sementara itu laba bersih Grup Jasa Keuangan meningkat menjadi Rp 3,8 triliun dari Rp 789 miliar pada tahun sebelumnya sebagai dampak kembalinya profitabilitas dari Bank Permata serta kenaikan kontribusi PT Astra Sedaya Finance (ASF), PT Federal International Finance (FIF) dan PT Asuransi Astra Buana (AAB).

Sektor bisnis pembiayaan konsumen menunjukkan kenaikan total pembiayaan sebesar 3% termasuk pembiayaan melalui joint bank financing without recourse menjadi Rp 81,7 triliun. ASF yang fokus pada pembiayaan roda empat mencatat kenaikan laba bersih sebesar 2% menjadi Rp957 miliar.

Sedangkan PT Toyota Astra Financial Services (TAF), mencatat penurunan laba bersih sebesar 95% menjadi Rp 18 miliar diakibatkan meningkatnya provisi kerugian pemberian kredit, terutama di segmen low cost car.

FIF yang fokus pada pembiayaan roda dua mencatat kenaikan laba bersih sebesar 11% menjadi Rp 2,0 triliun, disebabkan meningkatnya pangsa pasar motor Honda serta diversifikasi produk pembiayaan.

Total pembiayaan yang dikucurkan oleh Grup pembiayaan alat berat meningkat 25% menjadi Rp 5,9 triliun. Namun, terdapat kenaikan provisi kerugian pemberian kredit terkait debitor kecil dan menengah.

“Setelah mencetak kinerja keseluruhan yang baik pada tahun 2017, Grup Astra diharapkan dapat terus diuntungkan dari membaiknya kondisi ekonomi serta stabilnya harga komoditas, meskipun persaingan di pasar mobil akan terus meningkat,” tutup Prijono Sugiarto.

Video Paling Viral saat Ini
 (kpl/nz/crn)
Berita Terkini Selengkapnya