Cerita Jenderal Hoegeng, Polisi Jujur yang Tolak Mobil Mewah dari Seorang Mafia

Oleh Redaksi Otosia pada 27 Okt 2021, 15:15 WIB
Diperbarui 27 Okt 2021, 15:15 WIB
Hoegeng. ©2012 Merdeka.com/dok
Hoegeng. ©2012 Merdeka.com/dok

Otosia.com Nama Jenderal Hoegeng begitu masyhur di kepolisian Indonesia. Ia sempat menjabat peminpin tertinggi kepolisian pada periode 9 Mei 1968 hingga 2 Oktober 1971.

Ia dikenal sebagai polisi yang tak pandang bulu dalam mengusut tindak kriminalitas yang merugikan negara. Bahkan ia tak gentar menghadapi mafia kelas kakap macam Roby Tjahjadi yang berupaya menyelendupkan mobil mewah di dekade awal rezim Orde Baru Soeharto.

Laku lampahnya yang tak mempan disogok, membuat polisi kelahiran Pekalongan, 14 Oktober 1921 itu kerap mendapat teror hingga perlakuan tak menyenangkan. Bahkan Hoegeng juga diceritakan pernah dikirimi santet oleh rekan sejawatnya usai mengusut skandal di tubuh kepolisian kala itu.

Melansir dari berbagai sumber pada Minggu (24/10), berikut kisah Jenderal Polisi Hoegeng yang melegenda itu.

 

Sebelum GIIAS 2022
 (kpl/ahm)

Tolak Gratifikasi

Sejak masih sekolah di akademi kepolisian, Hoegeng memang menjunjung tinggi integritas sebagai Kapolri. Bahkan ia rela hidup sederhana dan pas-pasan demi menolak berbagai gratifikasi termasuk saat baru menjabat Reserse Kriminal Sumatera Utara.

Mengutip dari YouTube Melawan Lupa, saat itu ia mendapat tugas di Kota Medan selepas menduduki jabatan sebagai kepala kepolisian di Provinsi Jawa Timur tahun 1956.

Next

Betapa kagetnya Hoegeng saat baru menempati rumah dinas yang disiapkan. Ia mendapat kiriman barang mewah hingga mobil yang usut punya usut berasal dari salah satu mafia di ibu kota Sumatera Utara itu.

"Jadi saat di Medan itu suasananya sangat beda dengan di Surabaya. Di sana banyak judi dan mafia lainnya. Kita waktu datang ke rumah itu kaget karena isinya sudah penuh dengan barang mewah. Bapak merasa tak sudi menyentuh itu dan kami pilih pindah ke hotel," terang Meriyati Roeslani, istri Hoegeng.

Kebal Dirayu Wanita Cantik

Selama menjabat sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia ke-5 Hoegeng memang sangat gencar memerangi permasalahan akar rumput salah satunya penyelundupan yang marak saat Indonesia baru bertumbuh.

Ia tak peduli siapa yang terlibat, mulai dari Roby Tjahjadi yang menyelundupkan 8 unit Mercy hingga seorang wanita cantik yang berusaha merayunya dan mengirim hadiah agar kasus penggelapannya diselesaikan dengan jalan damai.

Next

Keheranan Hoegeng muncul, tatkala para koleganya di kepolisian dan kejaksaan memintanya untuk melepaskan wanita tersebut. Ia bingung kenapa begitu banyak pejabat yang mau menolong sosok yang bersalah itu.

Belakangan Hoegeng mendapat kabar jika wanita tersebut tak segan-segan tidur dengan pejabat. Hal ini bertujuan untuk memuluskan aksi penyelundupannya.

Disantet Perwira

Selama memimpin Reskrim di Medan, Hoegeng banyak menangani kasus perjudian, termasuk penggelapan minyak nilam di Teluk Nibung ke Penang.

Suatu ketika ia berhasil menciduk anggota tentara dan polisi yang menjadi backing usaha ilegal itu. Anggota polisi yang digelandang Hoegeng saat itu berpangkat Kompol.

Merasa tak terima usahanya digagalkan tim Hoegeng, perwira itu menaruh dendam dan berupaya menyantet Hoegeng melalui perantara dukun.

Menariknya, sang dukun justru menghadap Hoegeng usai gagal menyantet dan meminta maaf karena disuruh perwira melakukan perbuatan tersebut dan berupaya menyembuhkan Hoegeng.

Polisi Jujur

Merasa menjadi ancaman rezim orde baru Hoegeng pun akhirnya dipensiunkan dini oleh Soeharto, dan berupaya disingkirkan dari Indonesia dengan menawarinya jabatan sebagai diplomat di luar negeri.

Merasa ada yang tidak beres, dan dihalang halangi pemerintah. Ia memilih mundur dari institusi kepolisian dan pemerintahan untuk kembali melakoni hobi bermusiknya dan memilih menjadi pelukis, dengan menggambar tokoh tokoh nasional.

Penulis: Nurul Diva Kautsar

Sumber: Merdeka.com

Lanjutkan Membaca ↓
Berita Terkini Selengkapnya