Petinggi Korlantas Polri Tangkap Basah Pemotor Naik Trotoar

Direktur Penegakan Hukum Korlantas Polri, Brigadir Jenderal Polisi Pujiyono Dulrachman langsung turun ke lapangan menertibkan para pemotor yang naik ke trotoar di Jakarta Selatan.

Rabu, 13 Maret 2019 18:15
Brigadir Jenderal Polisi Pujiyono Dulrachman (Instagram.com/ @indukpjrbitung002)
Editor : Cornelius Candra
Reporter : Nazarrudin Ray

Otosia.com - Perilaku pengendara motor di Ibukota kerap membuat jengkel tidak hanya pengendara lain, namun juga para pejalan kaki. Selain menjadi raja jalanan, hak-hak pejalan kaki juga dirampas. Sepeda motor naik trotoar pun seolah sudah menjadi pemandangan lumrah di Jakarta.

Sikap tidak terpuji pengendara motor yang tidak menghormati kaum pedestrian turut membuat gerah Direktur Penegakan Hukum Korlantas Polri, Brigadir Jenderal Polisi Pujiyono Dulrachman.

Dengan menggunakan seragam dinas, Pujiyono langsung turun ke lapangan menertibkan para pelanggar hak pejalan kaki di Jakarta Selatan.

Seperti dalam postingan pemilik akun instagram @indukpjrbitung002, terekam video Pujiyono Dulrachman terjun langsung menindak pemotor yang naik trotoar RSPP Pertamina, jalan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Dalam video pendek yang sempat viral ini nampak Pujiyono Dulrachman menelusuri trotoar untuk menangkap basah pemotor yang tidak disiplin. Dalam keterangan postingan instagram, Pujiyono Dulrachman berada di lokasi penertiban pada jam sibuk pulang kantor, yakni sekitar pukul 17.30 sore.

Dalam satu adegan, terlihat berbagai profesi ketangkap basah, termasuk para pengemudi ojek online. Mereka dikumpulkan di suatu tempat untuk kemudian diarahkan dan dinasihati langsung oleh Pujiyono agar tidak mengulangi lagi perbuatannya.

Belum diketahui apakah para pemotor tidak tertib lalu lintas ini diberi sanksi tegas berupa penilangan.

Sebenarnya pemotor yang naik trotoar bisa dikenakan ancaman Undang-undang Nomor 22 tahun 2019 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan pasal 275 ayat 1 yang berbunyi, “Setiap orang yang melakukan perbuatan yang mengakibatkan gangguan pada fungsi rambu lalu lintas, marka jalan, alat pemberi isyarat lalu lintas, fasilitas pejalan kaki dan alat pengaman pengguna jalan, dipidana dengan kurungan paling lama satu bulan atau denda paling banyak Rp 250.000.”

Ini belum termasuk jeratan pasal lain UU No.22 tahun 2009 yang lebih tegas. Misalnya pasal 274 ayat 2 menyebutkan, “Dimana setiap orang yang melakukan perbuatan yang mengakibatkan gangguan pada fungsi kelengkapan jalan dipidana dengan penjara paling lama satu tahun atau denda paling banyak Rp 24 juta.”

Simak videonya di bawah ini:

View this post on Instagram

A post shared by INDUK PJR BITUNG KORLANTAS (@indukpjrbitung002) on Mar 12, 2019 at 7:44am PDT

BACA INI JUGA DONG OTOLOVERS

 

(kpl/nzr/crn)
TAGS :
Join Otosia.com
KOMENTAR

BERITA TERKAIT





Dapatkan Mobil Idaman DenganKondisi Istimewa
Pilih Mobilmu Sekarang

Daftarkan email Anda untuk berlangganan berita terbaru Kami