Penghasilan Sopir Truk Tinja Bisa Tiga Kali Lipat UMP Jakarta

Rezeki yang diperolehnya cukup menarik, bahkan bisa dibilang hampir dua kali lipat dari pegawai kantoran pemula.

Sabtu, 17 Maret 2018 17:15
Foto by Nazar Ray
Editor : Nurrohman Sidiq
Reporter : Nazar Ray

Otosia.com - Bekerja sebagai sopir truk tinja sama artinya dengan menatang penyakit di depan mata. Makanya, taruhannya fisik, tetapi di sisi lain begitu mulia karena belum tentu semua orang mau melakukannya.

Kondisi itu pula yang dirasakan Tasiman, supir Colt Diesel berumur 48 tahun yang setiap selama 12 tahun terakhir bekerja sebagai penyedia jasa sedot WC. 

Rezeki yang diperolehnya cukup menarik, bahkan bisa dibilang hampir dua kali lipat dari pegawai kantoran pemula.

"Saya gak ada gaji, cuma komisi 30 persen. Misalnya, sekali nyedot dibayar Rp 1 juta, maka saya dapat 30 persennya, Rp 300 ribu. Nah kalau dapat Rp 400 ribu, ya tinggal hitung aja 30 persennya. Sehari bisa 5 kali sedot tinja, kadang 3, kadang juga gak dapat sama sekali," ujarnya.

Seandainya sehari Tasiman minimal pegang Rp 500 ribu, maka dengan bekerja 20 hari saja dia bisa mengumpulkan uang Rp 10 juta. Kalau lebih, mungkin bisa Rp 20 juta, meski kadang juga sepi sama sekali.

Itu artinya, pendapatan Tasiman bisa tiga kali lipat dari Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta 2018 yang ditetapkan oleh Gubernur Anies Baswedan.

Jika UMP DKI Jakarta sebesar Rp3.648.035, maka ketika dikalikan tiga, hanya akan didapatkan sebesar Rp11 jutaan saja. 

Namun jumlah tersebut tidak dinikmati Tasiman sendirian, karena ia harus membagi dua dengan kenek yang ikut bekerja. Soal prosentasenya berapa, Tasiman tidak menyebutkan.

"Kadang juga gak dapat sama sekali, terutama kalau hari-hari besar dan libur. Orang-orang pada keluar kota dan liburan sih, jadi sepi.
Jadi sekarang istilahnya, sehari gak pegang kotoran, ya pusing, ha-ha-ha. Karena gak dapet duit," ujarnya.

Cara Kerja Sopir Truk Tinja versi Tasiman

Jadi sopir penyedot tinja, Tasiman mengaku bukan cuma menyetir truk dan duduk-duduk, sementara kenek yang bekerja. Prinsipnya, dia tetap kerja tim.

"Ikutan kerja juga. Ya, kalau sudah jadi sopir truk tinja, ya harus kerja juga bantuin keneknya. Masak mau sendirian dia. Kalau posisi selangnya jauh nyedot 200 meter, siapa yang mau bantuin, coba? Apalagi kalau konsumennya perempuan, itu kan gak mungkin ikut bantuin," ujarnya.

Di bisnis ini sendiri, dia kadang bisa dapat borongan besar, terutama di pusat-pusat perbelanjaan, seperti Taman Anggrek, Sogo, Mall Kelapa Gading, Artha Gading, Pondok Indah Mall, Sumarecon Bekasi, dan lain-lain. Nilainya pun bukan lagi ratusan ribu, tapi jutaan.

Harus Siap Menangani Kerusakan Alat

Dengan jadwal yang kadang padat, maka perawatan alat kerjanya pun sebisa mungkin ditangani langsung, begitu juga untuk truknya.

"Kalau pompanya macet saat sedang nyedot tinja, ya saya benerin sendiri. Paling pompanya bongkar, di dalamnya ada kayak pisau baja yang buat gerakin baling penyedotnya, dibersihin, paling nyangkut kotoran. Dikasih oli, atau kasih gemuk biar lancar lagi."

Untuk masalah mesin truk, dia mengaku tidak terlalu mengerti. Namun jika urusannya masalah kerusakan luar (bukan mesin), dia mengaku bisa tangani.

"Kalau bongkar-bongkar apa, kayak rem, ganti kampas rem dan lain-lain, itu saya sendiri."

Truk ini sendiri diakuinya enak untuk dipakai kerja. Selama 12 tahun, truk tinjanya pun tetap Colt Diesel.

"Iya Mitsubishi terus. Enak sih. Walaupun setir berat (Colt Diesel 120 PS tahun 1995), tidak masalah, tetap enak, tanjakan enak, enggak banyak rewel sih. Paling ganti onderdil-onderdil yang harus diganti doang."

Ukurannya pun dirasa pas terutama karena tempat kerjanya yang berkisar di area perumahan

"Kan saya sering masuk kompleks, yang jalannya gak begitu gede, jadi masih bisa belok-belok enak. Ya kalau mobil tinja ukuran mobil segini pas sih, sama tangkinya, gak terlalu besar."

Satu yang jadi soal adalah jika truknya yang penuh muatan terhalang gara-gara mobil pribadi, motor, ataupun orang menyebrang seenaknya.

"Sering, kadang saya teriak dari jendela. Woi, nyebrang yang bener, bawa mobil, bawa motor yang bener. Karena kan mobil saya bawa muatan air kotor tangkinya, jadi suka nendang-nendang airnya, suka kopyak-kopyak. Jadi paling susah mobil beginian karena itu dia airnya suka nendang, mobil jadi sedikit ikutan goyang."

Ia pantas marah karena selama ini terbilang tertib saat berlalu lintas. Ia pun belum pernah ditilang polisi, dan selalu bawa surat lengkap.

SUDAH BACA INI JUGA?

"Alhamdulillah sih belum pernah ditilang. Ya gaklah, bukan karena polisi gak mau berhentiin karena bau. Kalau diberhentiin, saya bilang, siang, Pak! Ini pak surat-surat saya, lengkap." (nz)

(kpl/sdi)
TAGS :
Join Otosia.com
KOMENTAR

BERITA TERKAIT





Dapatkan Mobil Idaman DenganKondisi Istimewa
Pilih Mobilmu Sekarang

Daftarkan email Anda untuk berlangganan berita terbaru Kami