Pemprov DKI Wajibkan Uji Emisi, Ternyata Busi Pengaruhi Kualitas Gas Buang

Selain bahan bakar dan jenis mesin, ternyata busi juga memberikan pengaruh terhadap emisi gas buang kendaraan bermotor.

Selasa, 05 Januari 2021 08:15
Pemprov DKI Wajibkan Uji Emisi, Ternyata Busi Pengaruhi Kualitas Gas Buang Ilustrasi busi mobil (Otosia.com/Nazar Ray)

Editor : Nazarudin Ray

Otosia.com - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan mewajibkan pemilik kendaraan bermotor baik mobil ataupun sepeda motor untuk melakukan uji emisi. Ketentuan ini akan mulai berlaku efektif pada tanggal 24 Januari mendatang.

Pemprov DKI dan Kepolisian akan menyiapkan tindakan berupa penilangan dan denda kepada pemilik kendaraan yang tidak melakukan uji emisi dan tiduk lulus uji emisi gas buang.

Mengacu pada UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Pasal 285 dan 286, yakni ancaman denda maksimal Rp 250.000 untuk sepeda motor, dan Rp 500.000 untuk mobil. Selain itu sanksi lain Pemprov DKI akan memberikan tarif parkir tertinggi.

Baik dan buruknya emisi gas buang pada kendaraan juga bergantung pada beberapa hal, seperti perawatan, penggunaan bahan bakar maupun komponen lainnya, termasuk busi.

 

 

1 dari 3 Halaman

Nah soal busi, ternyata komponen satu ini juga memberikan pengaruh terhadap kualitas emisi gas buang. Namun kinerja busi juga dipengaruhi 3 hal yang membuat hasil gas buangnya menjadi buruk. Artinya, kinerja busi yang memberikan efek ke emisi tidak bekerja sendiri.

Menurut Diko Oktavianto, Technical Support PT NGK Busi Indonesia, ketiga hal yang mempengaruhi kerja busi tersebut adalah jenis bahan bakar yang dipakai, seberapa banyak jelaga atau sisa pembakaran yang tidak terbakar habis di ruang bakar (kandungan sulfur), dan jenis mesin yang digunakan.

"Jenis mesin yang digunakan pastinya berbeda antara mesin Karburator dengan injeksi. Proses pencampurannya mempengaruhi jumlah air fuel ratio (AFR) yang disuntik di ruang bakar. Istilahnya efek quenching, atau rambatan pembentukan api akibat tertahan sama bentuk elektroda dan jenis material bahanya," paparnya.

 

2 dari 3 Halaman

Karena itu busi dengan bentuk elektroda kecil memiliki tingkat efisiensi pembesaran api yang lebih baik dibandingkan dengan bentuk elektroda yang besar. Apalagi jika didukung dengan bahan material yang responsif terhadap daya hantar listrik dengan api. Ini menyebabkan waktu terjadinya api jadi lebih cepat

"Nah kecepatan pembentukan api ini yang nantinya punya pengaruh di emisi. Kalau si busi bisa membakar semua komponen udara dan bahan bakar yang terjadi di ruang bakar, maka emisi yang dihasilkan tentuya rendah. Sebab tidak ada efek residu atau sisa pembakaran yang ikut terbuang lewat knalpot," ungkapnya.

Jadi, jika 3 hal yang mempengaruhi kinerja busi tidak dijaga, otomatis kualitas busi jadi ikut jelek. Efeknya busi bisa mengalami carbon foul, overheat dan sebagainya.

 

3 dari 3 Halaman

Ketika busi busi sudah mengalami defect pemakaian atau cacat akibat penggunaan, cepat atau lambat kerja busi akan mengalami penurunan. Otomatis prinsip "pembakaran sempurna" tidak dapat terjadi, sehingga berimbas pada gas buang yang buruk.

"Jadi penjelasannya seperti itu jika dikaitkan dengan emisi. Ini konsep dasarnya dulu yang harus dipahami kenapa produsen busi menciptakan busi dengan tipe logam mulia," pungkasnya.

(kpl/nzr)

TAGS :
KOMENTAR

BERITA TERKAIT


Dapatkan Mobil Idaman DenganKondisi Istimewa
Pilih Mobilmu Sekarang

Daftarkan email Anda untuk berlangganan berita terbaru Kami