Pemerintah 'Setengah Hati' Soal Kendaraan Listrik?

Kurang efisiennya kendaraan listrik di Indonesia disebabkan asal sumber tenaga yang masih menggunakan bahan bakar fosil. Hal ini diungkapkan Rinaldi Dalimi, Anggota Perwakilan Dewan Energi Nasional saat diskusi Potential of Electric Vehicle as an Alternative Mobility Solution di Universitas Indonesia di Depok, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Selasa, 08 Maret 2016 10:15
Foto ilustrasi
Editor : Albert
Otosia.com -
Kurang efisiennya kendaraan listrik di Indonesia disebabkan asal sumber tenaga yang masih menggunakan bahan bakar fosil. Hal ini diungkapkan Rinaldi Dalimi, Anggota Perwakilan Dewan Energi Nasional saat diskusi Potential of Electric Vehicle as an Alternative Mobility Solution di Universitas Indonesia di Depok, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.
Oleh karenanya diperlukan diversikasi sumber tenaga baru yang mampu meningkatkan efisiensi kendaraan listrik. Meski berupaya mencari sumber baru, nuklir pun tak menjadi pilihan pemerintah saat ini. 
Menurut Direktur Pengendalian Polusi Udara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dasrul Chaniago, penggunaan nuklir sebagai sumber daya listrik tak memberikan efisiensi seperti yang diharapkan.
"Sebenarnya diskusi tentang penggunaan nuklir sudah lama. Kondisi saat ini, kalau kita bangun PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir), kita akan impor uranium dari luar karena tidak punya tambangnya. Selain itu, setelah terjadinya bencana Fukushima, harga listrik dari PLTN itu lebih tinggi daripada pembangkit batu bara atau gas. Jadi apabila kita punya PLTN, subsidi listrik akan naik dan kita akan ketergantungan negara lain, sehingga dirasa penggunaan nuklir tidak tepat lagi," ucap Dasrul. 
Senada dengan Dasrul, Rinaldi melihat penggunaan nuklir masih sulit diaplikasikan saat ini akibat rentannya faktor keamanan. Namun, Ia optimis akan adanya sumber bahan bakar baru untuk PLTN yang lebih aman seperti fusi dan thorium.

"Saat ini masih sulit lah. Tapi teknologi terus berkembang, sekarang ini ada fusi yang bahan bakarnya bukan uranium. Lalu juga ada thorium. Keduanya lebih aman. Kita punya limbah thorium sangat banyak, kalau nanti teknologi itu sudah bisa digunakan kita bisa manfaatkan limbah yang ada," ucap Rinaldi.

(kpl/fid/abe)
TAGS :
KOMENTAR

BERITA TERKAIT





Dapatkan Mobil Idaman DenganKondisi Istimewa
Pilih Mobilmu Sekarang

Daftarkan email Anda untuk berlangganan berita terbaru Kami