Motor Juara Kustomfest 2018 Bongkar Sudut Pandang Cafe Racer

The 29 karya Andhika Pratama dari Krom Works Jakarta membongkar sudut pandang cafe racer dengan membolak-balik segala unsur yang menjadi standar sebuah cafe racer.

Selasa, 09 Oktober 2018 19:45
The 29 di Kustomfest 2018 (Otosia.com/ Nazar Ray)
Editor : Cornelius Candra
Reporter : Nazarrudin Ray

Otosia.com - Cafe racer telak jadi sepeda motor custom idaman seiring dengan model-model populer lainnya. Lantas ketika gaya tersebut terasa sudah kelewat banyak, seorang builder peserta gelaran Kustomfest 2018 di Yogyakarta justru membuat semacam anti-tesis.

Andhika Pratama builder Krom Works Jakarta juara Best of The Best Kustomfest 2018 mengaku membongkar sudut pandang cafe racer dengan membolak-balik segala unsur yang menjadi standar sebuah cafe racer. Ia lalu menamainya "The 29".

"Memang yang saya ambil konsepnya adalah cafe racer, tapi setelah sekian proses saya ingin sesuatu yang beda. Kalau cafe racer biasanya pakai ban lebar, suspensi sport, fairing, kali ini saya balik," kata dia.

Andhika menerapkan prinsip handmade pada bagian-bagian sepeda motor The 29. Model klasik, girder suspensi, semua dikreasikan dan didesain sendiri. Frame juga dibuat sendiri. Itu belum seberapa sulit karena dia pun menyebut tahapan yang paling sulit.

"Kalau ditanya yang paling rumit adalah pembuatan suspensi belakang. Saya pakai aftermarket punya Harley Davidsons Softail. Itu biasanya dia sistem tarik, dan diletakkan di bagian bahwa frame, dan saya ingin berinovasi saya letakkan di bagian atas frame. Cara kerja sama, mekanismenya saya ubah semua. Jadi inovasi yang saya kejar di sini," kata dia.

Di luar poin-poin di atas, frame, swing arm, handle bar, exhaust pun dibuat handmade. Mesinnya memakai Harley Davidson Softail 2015 merek SNS
dengan kubikasi sekitar 1.800 cc, mesin komplet dengan gearbox secara standar.

"Kalau buat cafe racer pakai Harley itu masih jarang ya bisa dihitung," sanggah Andhika, yang lalu mengatakan alasan lain kenapa dia memakai mesin Harley.
Menurutnya, mesin Harley bersifat universal. Dia cocok dengan berbagai gaya dan fleksibel secara penggunaan.

"Kita buat apa saja, customize apa saja bisa. Itu mesin yang mengusung kebebasan," kata dia.

Namun, mesin modern tidak lantas membuatnya membiarkan belt terpasang sebagai bagian dari proses gerak.

"Pakai rantai karena saya mau konsep motor ini cafe racer yang kental dengan nuansa klasik, unik, dan ada fitur futuristiknya juga. Rantai untuk mengedepankan kesan klasik. Kalau belt kan motor yang sudah tahun 2000 ke atas, modern," ujarnya.

Dia lalu menerapkan ventilated disc brake, model terbalik, yang di-custom pakai Honda CBX. Menariknya, bagian itu diubah total karena awalnya berasal dari velg racing yang kemudian dijadikan model klasik.

"Bagian itu dibuat agak mepet karena ada girder, sekitar 1 cm. Kalau dilihat dari girder, tangki, suspensi sebenarnya ada flow, tapi sebenarnya enggak nyambung," ujarnya.

Total pengerjaan motor ini sendiri 6 bulan dari nol sampai jadi. Satu hal penting lain adalah memperhitungkan ukuran si penggunanya.

"Ketika saya membuat motor yang saya sesuaikan adalah ukuran si owner-nya, lalu komposisi mulai dari jarak roda sampai part yang ingin diaplikasikan. Tinggi owner-nya 170-175 cm, namanya Doni Go," kata dia.

Lalu kenapa motor ini namanya The 29? Ia pun hanya terkekeh dan memberi alasan karena angka itu seiring berjalannya proses dirinya membuat motor. Usia 29 tahun? Muda juga untuk seorang builder.

BACA INI JUGA DONG OTOLOVERS

(kpl/nzr/crn)
TAGS :
KOMENTAR

BERITA TERKAIT





Dapatkan Mobil Idaman DenganKondisi Istimewa
Pilih Mobilmu Sekarang

Daftarkan email Anda untuk berlangganan berita terbaru Kami