Mobil Listrik Gantikan Mesin Konvensional, Toyota: Banyak Kendala yang Akan Dihadapi

Begini tanggapan pihak Toyota terkait rencana mobil listrik akan menggantikan mesin konvensional

Senin, 29 Maret 2021 15:15
Mobil Listrik Gantikan Mesin Konvensional, Toyota: Banyak Kendala yang Akan Dihadapi Ilustrasi mobil listrik (greencarreports)

Editor : Ahmad Muzaki

Otosia.com - Seperti yang telah diketahui, mobil listrik digadang-gadang menjadi kendaraan masa depan. Lebih lanjut, mobil listrik akan menggantikan mesin konvensional alias mesin pembakaran dalam atau combustion engine.

Rupanya, rencana ini diragukan terealisasi oleh Direktur Senior Toyota, Robert Wimmer. Melansir Zing, Ia beralasan, jika menghentikan mesin konvensional, maka banyak masalah yang harus dihadapi.

1 dari 4 Halaman

Ia pun tak hanya omong kosong saja. Wimmer juga menunjukkan data yang mengejutkan. Ketika beberapa produsen mobil berencana merealisasikan hal itu, ternyata hanya ada kurang dari 2% mobil listirk yang dijual di pasar Amerika Serikat selama 2020.

Lebih lanjut, Wimmer mengatakan bahwa Toyota membutuhkan waktu selama 20 tahun untuk bisa menjual lebih dari 4 juta mobil hybrid di pasar Amerika.

2 dari 4 Halaman

Selain anggaran besar, masalah lain yang cukup genting jika rencana terealisasi adalah dampat terhadap lingkungan. Jika melihat data dari laporan Thomson Reuters, di Amerika sekitar 30% listirk dihasilkan dari pembakaran batu bara. Di Cina, angka tersebut berlipat ganda. Secara grlobal, ada sekitar 37% listrik dihasilkan dari pembakaran batu bara.

"Saat ini pergerakan mobil listrik berkembang karena banyak yang menganggapnya melindungi lingkungan. Tapi jika permintaan mobil listrik dalam dekade ini melonjak, itu juga berarti konsumsi listrik akan meningkat secara signifikan, bisa meningkat. 300 kali dalam 2040, dibandingkan 2016," kata Robert Wimmer.

3 dari 4 Halaman

Sebelumnya, Bos Toyota Akio Toyoda sudah memaparkan hal yang sama. Ia menilai jika kendaraan listrik akan semakin memperburuk kondisi lingkungan.

Jika semua mobil bermesin listrik, maka pada musim panas Jepang akan kehabisan listrik. Infrastuktur untuk penunjangnya sendiri menelan biaya mencapai $135 miliar hingga $358 miliar atau sekitar Rp1.913 triliun Rp5.075 triliun (Kurs USD1=Rp14.177).

4 dari 4 Halaman

Parahnya lagi, sebagian besar listrik di Jepang dihasilkan dari pembakaran batu bara dan gas alam. Secara tidak langsung hal ini akan memperburuk kondisi lingkungan.

"Semakin banyak EV yang kita buat, semakin buruk karbon dioksida ... Ketika politisi di luar sana berkata, 'Mari kita singkirkan semua mobil yang menggunakan bensin,' apakah mereka memahami ini?" kata Akio Toyoda.

(kpl/ahm)

KOMENTAR

Dapatkan Mobil Idaman DenganKondisi Istimewa
Pilih Mobilmu Sekarang

Daftarkan email Anda untuk berlangganan berita terbaru Kami