Melihat Deretan Angkutan Umum Jadul di Pameran Busworld

Beragam angkutan umum jadul dipajang dalam Pameran Busworld South East Asia.

Kamis, 21 Maret 2019 19:45
Angkutan umum jadul (Otosia.com/ Nazar Ray)
Editor : Cornelius Candra
Reporter : Nazarrudin Ray

Otosia.com - Pameran Busworld South East Asia dibuka kemarin (20/3) di JIExpo Kemayoran Jakarta. Selain tampil bus-bus modern, pameran ini juga menyediakan ruang bagi mereka yang ingin sekadar bernostalgia bersama alat transportasi tempo doeloe.

PT Global Expo Management (GEM) selaku penyelenggara untuk kesekian kalinya menampilkan bus-bus maupun angkutan kota klasik tahun 1930-an hingga 1970-an dari berbagai daerah di Indonesia, dan pernah menjadi bagian dari sejarah transportasi darat di Indonesia.

GEM menyediakan hall khusus bagi kehadiran alat transportasi darat klasik yang berasal dari Perum Pengangkutan Penumpang Djakarta (PPD), koleksi pribadi, hingga perusahaan tambang.

Kehadiran bus-bus alat trasportasi umum ini rupanya turut mengundang rasa penasaran dan memancing minat pengunjung untuk melihat, bahkan ikut naik di dalamnya.

Di area outdoor, rasa penasaran terhadap bus retro ini terjawab setelah pemilik bus memberi kesempatan pengunjung untuk menikmati perjalanan singkat bersama bus klasik, meski terbatas di sekitar area JIExpo Kemayoran.

Sementara di bagian dalam adalah area menarik untuk dilihat lebih jauh tentang kendaraan yang menjadi bagian sejarah dari perjalanan angkutan darat di Indonesia di masa silam.

Sebut saja Oplet 'Si Doel' Morris Minor 100. Mobil klasik yang dulu mengabdi sebagai angkutan umum ini adalah koleksi Salim dari Jakarta Timur. Bahkan mobil ini pernah ditawar kolektor Rp 450 juta, namun tidak dilepas oleh pemiliknya.

Oplet generasi pertama muncul di Indenesia tahun 1930. Pada Otahun 1950 mulai beroperasi dengan trayek resmi. Mengabdi hampir 30 tahun, pada tahun 1979 trayek Oplet dihapuskan, dan tahun 1981 digantikan dengan Mikrolet atau Koperasi Wahana Kalpika (KWK). Oplet ini full 100 persen orisinil pabrikan, karoseri asli dan memiliki tiga jendela.

Berikutnya taksi Toyota Corolla KE20 lansiran 1973 milik Deva Kumis. Ini adalah taksi dengan ciri khas warna kuning yang legendaris di Jakarta, sebuah armada taksi yang popular di tahun 1970 sampai tahun 1980-an.

Armada taksi Toyota Corolla ini menjadi tulang punggung armada President Taxi. Taksi ini barangkali ini adalah satu-satunya yang masih tersisa dalam keadaan baik.

Angkutan umum lain yang nyentrik adalah Daihatsu Midget (kerdil). Dibuat secara manual pada tahun 1957 dengan kabin kursi tunggal. Di Indonesia mobil ini lebih familiar dengan sebutan Bemo.

Bemo koleksi Ali ini merupakan kendaraan niaga (micro truck) buatan Daihatsu, bermesin dua langkah, dengan ciri khas roda tiganya. Ia melayani trayek di beberapa rute di Jakarta. Salah satu trayek yang dilaluinya adalah Tanah Abang – Bendungan Hilir, Tanah Abang – Karet, dan Salemba – Rawasari.

Seiring dengan perkembangan jaman, akhirnya Bemo tergusur dari Ibukota. Ia digantikan oleh APB (Angkutan Pengganti Bemo) yang banyak diisi oleh Suzuki Carry.

Sama seperti tahun lalu, "Oto Pownis" juga tampil kembali. Ia adalah Mitsubishi Colt Diesel 100 PS karoseri lokal dan dimiliki sekarang oleh PT Timah. Bus Pownis dengan sebagian karoseri dari kayu ini basisnya adalah truk medium produksi 1987.

Di pulau Bangka bus ini digunakan sebagai city tour untuk anak sekolah maupun mayarakat umum secara gratis. Yang menarik, di pulau Bangka sejak tahun 1950-an sudah ada bus yang terbuat dari kayu. Bus Pownis ini menjadi bus terakhir yang tersisa dari bus kayu di Bangka.

Dari deretan angkutan darat klasik, salah satu yang tertua adalah bus Mitsubishi Fuso R series tahun 1963, yang tampil dengan warna biru laut mencolok dipojok hall B JIExpo Kemayoran.

Yang juga tak kalah unik adalah deretan nenek moyang Mitsubishi Delica. Mobil ini dibuat dalam beberapa varian. Untuk Delica T100 yang diproduksi tahun 1969 mengalami perubahan pada tenaga dan mesin menjadi 62 PS (46kW). Disebut Delica Coach karena dapat mengangkut 9 orang penumpang.

Lalu ada Mitsubishi Delica 75/T 120 lansiran tahun 1974 milik Bambang Legowo. Dengan bodi Tanaking, varian Mitsubishi Delica ini dibuat dalam beberapa varian.

Delica klasik lainnya adalah T120 produksi tahun 1974. Nama saat diproduksi adalah Delica dengan model sasis T100. Van dengan genre kendaraan niaga ini dibekali mesin KE44 berkapasitas 1.088cc yang menyemburkan tenaga 58 PS (43kW), dengan kecepatan maksimal 115 km/jam dan daya angkut 600 kg.

Dari beberapa varian Delica jadul yang dipamerkan, barangkali restorasi oleh Tri Broto-lah yang paling nyentrik. Ia merestorasi varian Delica T120 dengan Double Cabin. Model ini dibuat tahun 1973.

Memang bukan dalam bentuk aslinya, melainkan hasil modifikasi dari T120 model generasi awal yang berbentuk wagon (Coach). Lalu oleh si empunya disulap menjadi kabin ganda.

BACA INI JUGA DONG OTOLOVERS

(kpl/nzr/crn)
TAGS :
Join Otosia.com
KOMENTAR

BERITA TERKAIT





Dapatkan Mobil Idaman DenganKondisi Istimewa
Pilih Mobilmu Sekarang

Daftarkan email Anda untuk berlangganan berita terbaru Kami