Koalisi Pedestrian Lakukan Aksi Cerdas 'Tumpas' Perampas Hak Pejalan Kaki

Jaringan Koalisi Pejalan Kaki (KoPK), Aksi Keselamatan Jalan (Jarak Aman), Pramuka, dan komunitas Bus Mania melakukan aksi cerdas menumpas perampas hak pejalan kaki

Senin, 23 Januari 2017 12:15
KoPK (foto: Nazar Ray)
Editor : Fajar Ardiansyah

Otosia.com - Pejalan kaki masih menjadi kelompok pengguna jalan yang rentan kecelakaan lalu lintas jalan. Di Indonesia setiap hari belasan pedestrian meregang nyawa di jalan raya. Belum lagi mereka yang menderita luka dan menanggung hilangnya produktifitas.

Perihatin dengan kondisi tersebut Jaringan Koalisi Pejalan Kaki (KoPK), Aksi Keselamatan Jalan (Jarak Aman), Pramuka, dan komunitas Bus Mania melakukan aksi cerdas menumpas perampas hak pejalan kaki di lokasi tepat tragedi Tugu Tani Jakarta terjadi 5 tahun silam.

Tragedi Tugu Tani menelan korban 13 pedestrian. Para pejalan kaki ini usai berolahraga diterjang mobil yang dikemudikan pengendara mobil yang lepas kendali. Sembilan orang meregang nyawa dan empat menderita uka berat, pada suatu pagi di Jakarta, 22 Januari 2012.

Aksi gabungan yang berlangsung minggu (22/1) ini mendesak pemangku kepentingan untuk memperhatikan hak-hak pedestrian, dan meminta aparat penegak hukum menertibkan pelaku perampak hak pejalan kaki, seeperti pengedara roda dua dan empat, serta pedagang kaki lima.

"Kebijakan pemangku kepentingan yang berpihak pada pedestrian masih setengah hati. Lihat saja misalnya, fasilitas trotoar, jembatan penyeberangan orang (JPO), dan zebra cross yang demikian minim," ujar Alfred Sitorus, koordinator KoPK.

Alfred menegaskan, perhatian pemerintah terhadap pejalan kaki masih timpang dibandingkan dengan kasus lain seperti penyalahgunaan narkoba, terorisme, dan bencana alam.

Koalisi Pejalan Kaki menginginkan Kepolisian RI menegakkan hukum dengan lebih tegas, konsisten, transparan, kredibel, dan tidak pandang bulu. Lalu, pemerintah menyediakan sarana transportasi umum yang aman, nyaman, selamat, terjangkau secara akses dan finansial.

Sementara masyarakat diminta untuk selalu mematuhi aturan yang berlaku, yakni UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. "Yang pasti, trotoar, zebra cross, jembatan penyeberangan orang adalah hak dan kedaulatan para pejalan kaki. Mari rebut kembali," tegasnya.

Menurut Alfred, di dunia, data WHO nenyatakan, 22% korban kecelakaan afalah pejalan kaki. Angka itu setara dengan 747 pedestrian tewas per hari.

"Koalisi Pejalan Kaki (KoPK) menyerukan 22 Januari sebagai Hari Pedestrian. Hari untuk para pejalan kaki saling mengingatkan pentingnya keselamatan berlalu lintas jalan," tutur Alfred.

Sementara ditempat yang sama, Edo Rusyanto, koordinator Jarak Aman, mengatakan bahwa hak pejalan kaki masih tercabik-cabik oleh perilaku pengendara yang super egois. Fasilitas pedestrian dijarah. "Motif ekonomi dan perilaku egois menjadi pemicu terjadinya itu semua," tandasnya.

Edo berharap seluruh pengguna jalan memprioritaskan keselamatan jalan. Tahun 2016, masih terjadi 288 kecelakaan per hari. "Tahun lalu, setiap hari 72 jiwa melayang akibat kecelakaan," pungkas Edo.

BERITA YANG TAK BOLEH DILEWATKAN LAINNYA!

(kpl/nzr/fjr)
TAGS :
KOMENTAR

BERITA TERKAIT





Dapatkan Mobil Idaman DenganKondisi Istimewa
Pilih Mobilmu Sekarang

Daftarkan email Anda untuk berlangganan berita terbaru Kami