Kencan Singkat Bersama Kawasaki Klasik W175 di Perbukitan

Simak bagaimana jurnalis Otosia kami yang tampan rupawan dan bersahaja secara eksklusif mencoba kebolehan W175 yang baru saja dirilis Kawasaki.

Kamis, 30 November 2017 12:45
Kawasaki W175 (foto: Otosia)
Editor : Fajar Ardiansyah
Reporter : Nazarrudin Ray

Otosia.com - Bersama awak media lain Otosia.com kembali mendapat tawaran dari PT Kawasaki Motor Indonesia (KMI) untuk menjajal sepeda motor terbaru bergaya retro, KawasakiW175, di kawasan Rainbow Hill, Bogor, Jawa Barat, kemarin (29/11).

Awalnya sempat terbesit pemikiran, kenapa dilakukan test ride dilakukan di daerah perbukitan? Jawabannya ada setelah merasakan berkendara melintasi kontur jalan bervariatif di kawasan yang menyajikan pemandangan menakjubkan berlatar belakang gunung Salak. Dari aspal mulus, hingga gravel melalui medan berliku yang diwarnai dengan tanjakan dan turunan dengan tikungan cukup tajam.

"Test ride kali ini merupakan kesempatan first in the world untuk mencoba Kawasaki produk global W175," ungkap Michael Tjandra Tanadi, Head of Marketing PT Kawasaki Motor Indonesia sebelum melepas rombongan pertama.

Test ride jarak pendek ini dibagi menjadi dua sesi. Pertama riding bersama rombongan dengan kawalan dari pihak KMI untuk mengenal jalur sedangkan sesi kedua waktunya untuk eksplorasi W175 lebih jauh.

Memandang W175 dengan desain retro membuat ingatan akan wujud motor era tahun 70-an. Suara sedikit kasar yang terdengar dari mesin melalui knalpot makin mengentalkan aura motor jadul.

Usai memandangi secara detail, Otosia.com langsung mencoba posisi ergonomisnya. Dengan tinggi postur 165cm, kaki masih tearasa nyaman menjejak tanah. Duduk dibalik stang lebar di atas jok dengan desain model lawas menggunakan busa tebal turut menyokong keyamanan berkendara.

Rancangan tanki bensin menganut model tetesan air, rancangan khas tear drop ini membuat posisi kaki berkendara menjadi terbuka. Tambahan lapisan karet pada sisi belakang tangki selain menyokong keindahan rancangan, juga melindungi dari goresan celana saat berkendara.

Padding dengan hiasan pola pattern klasik menggunakan karet lembut terasa nyaman ketika diapit oleh paha. Cukup membantu saat menikmati tingkungan. Oh ya, tes kali ini kami tidak mencari top speed mengingat jalur yang dilalui adalah perbukitan. Kami hanya mencari sisi kenyamanan mengendarai motor ini beserta fiturnya saja, tidak fokus memuntir gas dalam-dalam, layaknya menjajal motor sport.

tang lebar menyokong handling motor terasa ringan. Saat melahap tikungan , motor terasa nurut diajak bermain, bahkan saat dicoba berboncengan. Dengan postur rata-rata orang Indonesia, Otosia merasa nyaman dengan posisi duduk, pas menggengam grip gas dan menarik tuas rem dan kopling. Saat mencoba diajak zig-zag posisi berkendaranya masih terasa nyaman, hal senada juga dirasakan oleh pembonceng.

Tiga lampu indikator menginformasikan posisi gigi netral, lampu jauh dan tanda belok. Bentuknya yang sederhana, namun terasa enak ditatap. Sedangkan panel speedometer model klasik analog menampilkan informasi kecepetan dan odometer, yang justru pola rancangan demikian memberikan keuntungan sangat mudah dibaca saat berkendara.

Sekali lirik informasi sudah tersampaikan. Bentuk spion membulat dan cukup besar memuat lebih banyak informasi visual di belakang saat berkendara. Keuntungan lain, Otosia bisa memantau kondisi pebonceng.

Merasakan semburan mesin satu silinder 175 cc, akselerasinya tidak secepat motor sport di kelas 150 cc yang sedang digandrungi anak muda jaman sekarang.

Tarikannya terasa linier tapi tenaga tidak kekurangan. Asupan energi olahan pengabut konvensional Mikuni terasa pas untuk berkendara santai dan menikmati perjalanan. Namun percepatan 4 ke atas tenaga seolah tak terisi meski rpm sudah dibejek ke level lebih tinggi.

Kendati demikian, saat mencicipi tanjakan terjal dan berbelok pada posisi gigi dua tidak terasa kekurangan tenaga, meskipun berboncengan. Mungkin inilah yang menjadi alasan KMI memilih Rainbow Hill untuk merasakan sensasi W175. Sayangnya tuas persneling model ungkit terasa kurang cocok untuk model klasik.

Saat mencoba berbocengan melintasi kontur jalan gravel, berlubang dan polisi tidur, redaman shok ganda terasa empuk dan nyaman. Beda ketika solo riding, shock dirasa kurang maksimal meredam benturan. Bersyukur, sadel tebal sedikit membantu kenyamanan. Jadi untuk membuat W175 nyaman diajak 'jalan-jalan', shock belakang bisa diatur sesuai keinginan, dijamin maknyus dan asik.

Meskipun didukung rem model cakram pada bagian depan, piringan cakram terlihat imut, terasa kurang greret saat diajak rem dadakan. Sementara model rem teromol pada roda belakang sedikit minimalis, akan tetapi cukup menunjukkan kinerja baik saat menghentikan laju sepeda motor dalam kecepatan sedang.

Dengan tawaran harga hingga R 30 jutaan, W175 menurut Otosia menjadi pilihan paling rasional untuk memiliki motor model retro harian, yang sosoknya perpaduan desain modern dan lawas. Dan paling utama model ini mumpuni menawarkan kenyamanan, gaya dan perawatan yang lebih mudah.

Seperti bos Kawasaki Indonesia, Michael Tjandra bilang, "Sebenarnya arahan kita juga jadi motor commuting juga. Jadi orang enggak melulu mesti pakai skutik, bebek, atau motor sport 150 cc. Nah, ini kami maksudnya mau buka segmen baru untuk commuting di kelas retro 175 cc. Harganya pun harga bagus. Buat pembonceng posisinya nyaman, tidak pegal, dan shock empuk. Jadi masuk dan enak buat dinikmati harian. Di kota maupun jalan-jalan perbukitan kayak gini, bisa enjoy."

YANG LAINNYA JUGA GOKIL NIH, OTOLOVERS!

(kpl/nz/fjr)
TAGS :
KOMENTAR

BERITA TERKAIT





Dapatkan Mobil Idaman DenganKondisi Istimewa
Pilih Mobilmu Sekarang

Daftarkan email Anda untuk berlangganan berita terbaru Kami