Kemenhub Pastikan Tarif Angkutan Umum Tak Naik Setelah Beroperasi Lagi

Kembali beroperasi, tarif angkutan umum tak naik. Namun bergantung juga dari demand masyarakat

Selasa, 09 Juni 2020 15:45
Kemenhub Pastikan Tarif Angkutan Umum Tak Naik Setelah Beroperasi Lagi Angkutan Metromini menunggu penumpang di Terminal Blok M, Jakarta, Jumat (12/4). Sebanyak 312 bus sedang yang akan bekerja sama dengan Jak Lingko didapat dari empat operator yaitu Metromini, Kopaja, Kopami, dan Koantas Bima. (Liputan6.com/Immanuel Antoniu

Editor : Ahmad Muzaki

Otosia.com - Menyusul beroperasinya transportasi umum saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Masa Transisi, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) pastikan belum ada kenaikan tarif. Naik atau tidaknya bergantung pada penyesuaian daya beli dan demand dari masyarakat di situasi seperti ini.

"Lazimnya kalau ada suatu penurunan okiupansi otomatis uang yang didapat oleh para operator ini tidak banyak. Sehingga mengakibatkan keharusan untuk menentukan tarif," ujar Menteri Perhububgan, Budi Karya Sumadi (BKS) dalam konferensi pers, Selasa (9/6/2020).

"Kita memang hati-hati dalam hal ini karena kita juga melihat daya beli dari masyrakat ini kan menurun, bagaimana kalau kita melakukan kenaikan tarif ini, tentu demandnya akan tidak maksimal. Padahal sektor perhubungn darat ini juga harus eksis," sambung dia.

Sementara, lanjut BKS, jika demand sudah tumbuh saat masa transisi ini atau pada masa normal baru nanti, maka tidak menutup kemungkinan akan akan dilakukan penyesuaian tarif.

"Saya pikir kita mungkin cenderung untuk beberapa saat ini tidak memberikan kenaikan tarif supaya daya beli masyarakat, demand ini tetap tumbuh," jelas BKS.

"Kalau demand tumbuh, sebenarnya sama saja kalau ditetapkan tarif tinggi demandnya turun, sehingga yang beroperasi itu ditentukan oleh demand, ini juga menjadi masalah. Tapi kalau kita pertahankan dulu tarif, demandnya naik, ya nanti akan kita lihat, kita hitung," pungkas dia.

1 dari 3 Halaman

Meneropong Nasib Angkutan Umum Pasca Pandemi Corona

Angkutan umum melintas di sekitar Terminal Depok, Jawa Barat, Kamis (14/5/2020). Kepala Sub Bagian Tata Usaha Terminal Terpadu Depok Reynold Jhon mengatakan, pengguna angkutan umum di Terminal Terpadu Depok mengalami penurunan 10-20 persen selama pemberlakuan PSBB. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

 

Dalam era new normal, nantinya ada beberapa hal yang menindikasikan perubahan pola perilaku penumpang kendaraan umum. Hal ini disampaikan Sekretaris Jenderal Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Harya S. Dillon.

"Setelah pandemi usai bagaimana nasib angkutan umum perkotaan, karena setelah ini kita terus fokus Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN)," kata dia dalam video konferensi MTI, Kamis (21/5/2020).

Harya mengungkapkan, berdasarkan beberapa studi, selain dapat disembuhkan dengan vaksin, virus dapat mereda melalui sosio-psikologis, dimana virus tersebut masih ada, namun masyarakat mulai abai dan bisa berdampingan. Hal ini merujuk pada estimasi implementasi new normal.

"Vaksin yang aman dan ampuh ini kira-kira 18 bulan selesainya, dan banyak juga pandemi yang berakhir secara sosio-psikologis. Karena mungkin masyarakat sudah jenuh, sangat berharap normal baru," jelasnya.

2 dari 3 Halaman

Sebagai contoh, Harya mengatakan bahwa sampai saat ini komunitas medis belum menemukan apa yang sebenarnya memutus rantai penyebaran SARS. Dugaanya, faktor sosio-psikologis turut andil dalam pudarnya virus ini.

Situasi dalam impementasi normal baru ini tentu mempengaruhi kebiasaan penumpang, utamanya transportasi umum, menyebabkan dampak lain yang cukup kompleks dan terikat satu sama lain.

"Kita lihat angkutan umum dalam kota ini terpukul dua kali, karena pertama pemasukan berkurang, tapi juga pengeluaran bertambah karena harus membeli peralatan seperti hand sanitizer, termometer dan seterusnya," ujar Harya.

3 dari 3 Halaman

Subsidi

Angkutan Metromini menunggu penumpang di Terminal Blok M, Jakarta, Jumat (12/4). Kepala Bidang Angkutan Darat (BAD) Dinas Perhubungan DKI Jakarta Masdes Aerofi mengatakan setidaknya pada 2019 ini ada 312 bus sedang yang akan bekerja sama dengan Jak Lingko. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Sementara ruang fiskal Pemda juga tertekan karena pemasukan dari pajak daerah juga berkurang. "Nah ini kalau sampai terjadi pemotongan subsidi, yang saya khawatirkan adalah ini berdampak jangka panjang," sambungnya.

"Jadi ketika penumpang sudah kapok naik angkutan umum yang pelayanannya buruk, dia akan beralih ke kendaraan pribadi dan akan sangat sulit untuk membawa mereka kembali mempercayai kendaraan umum," kata dia.

Oleh sebab itu, perlu dipikirkan bagaimana agar masyarakat merasa aman dan nyaman ketika naik angkutan umum dalam masa new normal nanti.

Sumber: Liputan6.com

(kpl/ahm)

KOMENTAR

Dapatkan Mobil Idaman DenganKondisi Istimewa
Pilih Mobilmu Sekarang

Daftarkan email Anda untuk berlangganan berita terbaru Kami