Indonesia Bentuk Industri Baterai RI, Nilai Investasi Ditaksir Rp177 Triliun

Kementerian BUMN akan membentuk perusahaan holding, bernama Industri Baterai. Ada tiga perusahaan BUMN yang dilibatkan dalam Industri Baterai.

Jum'at, 16 Oktober 2020 21:15
Indonesia Bentuk Industri Baterai RI, Nilai Investasi Ditaksir Rp177 Triliun Pabrik baterai Mercedes (Daimler.com)

Editor : Dini Arining Tyas

Otosia.com - Tiga perusahaan BUMN akan disatukan dalam sebuah holding bernama Indonesia Battery. Tiga perusahaan itu yakni PT Aneka Tambang Tbk (Antam), PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (persero)

Dilansir dari Merdeka.com, perusahaan ini menelan biaya investasi sebanyak USD 12 miliar atau setara Rp 177,1 triliun (asumsi Rp 14.760 per USD) untuk mengolah nikel dari hulu ke hilir.

"Kalau dari Pak Menteri (BUMN) USD 12 miliar karena (produk) turunannya lebih jauh," kata Direktur Utama MIND ID, Orias Petrus Moedak, di Jakarta, Kamis (15/10/2020).

1 dari 2 Halaman

Pendanaan perusahaan holding ini berasal dari dua perusahaan asing yakni Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL) dari Tiongkok dan LG Chem Ltd asal Korea. Dua perusahaan ini dikenal sebagai produsen electric vehicle (EV) battery atau baterai untuk kendaraan listrik terbesar dunia. Nilai proyek ini, kata Orias, akan lebih besar jika ada perusahaan lain yang bergabung sebagai pihak ketiga.

"Kalau ada mitra ketiga masuk, investasinya bisa sampai USD 20 miliar," kata dia.

Namun, sejauh ini jumlah perhitungannya masih di angka USD 12 miliar untuk industri pengolahan nikel dari hulu ke hilir. "Sekarang perhitungannya USD 12 miliar dari hulu ke hilir," sambungnya.

2 dari 2 Halaman

Nantinya, Antam akan mengerjakan pasokan baterai di hulu. Sementara, Pertamina dan PLN akan mengerjakan di sektor hilir.

Bos MIND ID ini mengaku sempat menyinggung tentang kerjasama pihaknya dengan PLN dan Pertamina. Dia menginginkan permodalan holding sama rata.

"Saya sempat singgung kerja sama PLN dan Pertamina, kita akan ikut di dalam holding itu sama rata," kata dia.

Rencananya, di hulu nanti ada Antam dan mitra dari luar negeri yang mengelola nikel. Lalu di hilir akan menjadi bagian Pertamina untuk lakukan investasi dengan holding atau mitra luar. Hal yang sama juga dilakukan PLN.

"Idealnya sahamnya satu per tiga di holding, lalu di hilir kombinasi masing-masing, jadi Antam saya minta ikut," pungkasnya.

(kpl/tys)

TAGS :
KOMENTAR

BERITA TERKAIT


Dapatkan Mobil Idaman DenganKondisi Istimewa
Pilih Mobilmu Sekarang

Daftarkan email Anda untuk berlangganan berita terbaru Kami