Ganjil Genap Jakarta di Tengah Pandemi COVID-19 Tuai Kontroversi

Meski PSBB masa transisi DKI Jakarta diperpanjang, sistem ganjil genap sudah diterapkan lagi. Efektifkah?

Selasa, 04 Agustus 2020 11:15
Ganjil Genap Jakarta di Tengah Pandemi COVID-19 Tuai Kontroversi Penerapan kembali ganjil genap di Jakarta (Ilustrasi/Merdeka.com)

Editor : Dini Arining Tyas

Otosia.com - PSBB masa transisi DKI Jakarta masih berlaku. PSBB masa transisi itu diperpanjang hingga 13 Agustus 2020. Meski begitu, sistem ganjil genap sudah mulai diterapkan lagi mulai kemarin, Senin (3/8/2020).

Sayangnya, penerapan kembali ganjil genap menuai kontroversi. Dilansir dari Merdeka.com, bahkan menuai banyak penolakan. Terlebih, kebijakan ini dilakukan saat kasus COVID-19 di ibu kota masih terus naik.

Dilansir dari Merdeka.com, pengamat kebijakan publik, Agus Pembagio mengatakan, kebijakan ganjil genap yang dinilai untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dinilai kurang tepat. Menurutnya, masyarakat akan tetap keluar rumah.

Bisa menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi umum. Lagipula menurut Agus, banyak warga Jakarta yang memiliki mobil lebih dari satu dengan pelat mobil yang berbeda pula.

"Lihat saja nanti, tidak akan ngaruh. Yang punya mobil dua banyak. Yang punya motor juga banyak. Jadi dibilang untuk pencegahan Covid-19 ya tidak ngaruh," ujar Agus saat dihubungi merdeka.com, Senin (3/8).

Agus mengaku tidak mengerti dimana korelasi antara pencegahan penularan Covid-19 dengan memberlakukan ganjil genap. Menurutnya, tidak ada hubungannya. Ia mengatakan, bahwa kebijakan ini tujuannya tidak jelas.

"Aturannya tidak jelas. Tujuannya tidak jelas. Tujuannya katanya buat memutus mata rantai Covid, tapi apa hubunganya sama ganjil genap?" kata Agus.

Agus mengatakan, kebijakan yang dibuat pemerintah kali ini tidak ada sisi efektivitas untuk mengurangi penularan Covid-19. Menurutnya, saat ini pemerintah tidak perlu mengatur masyarakat lagi karena kenyataannya, peraturan yang ditetapkan pemerintah, dinilai kurang tegas. Agus melihat pemerintah tidak serius setiap kali membuat suatu kebijakan.

"Saya sudah tidak pada sisi untuk mengomentari peraturan karena peraturannya dibuat suka-suka, tidak ada efektivitasnya. Sekali lagi, peraturan apapun yang dikeluarkan pemerintah sudah tidak ada gunanya lagi," ujarnya.

Agus mengatakan, pemerintah tidak tegas dalam membuat aturan. Ia tahu bahwa alasan diberlakukannya ganjil genap kembali dikarenakan PSBB gagal menahan warga Jakarta untuk keluar rumah. Kenyataannya, volume kendaraan malah meningkat.

"Kalau melanggar sanksinya apa? Kalau tidak ada sanksinya untuk apa dibuat aturan?" ujarnya.

1 dari 3 Halaman

Sementara itu, seorang pengendara mobil, Timo, mengatakan, kebijakan ganjil genap untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 tidak terlalu berpengaruh. Memang benar mengurangi kemacetan, namun ia merasa lebih aman di dalam kendaraan pribadi daripada di kendaraan umum.

Bahkan ia juga setuju dengan pendapat Pengamat Kebijakan Publik, Agus Pambagio, menurutnya aturan yang ditetapkan pemerintah sering kali tidak tegas dalam implementasinya.

"Biarkan mereka (masyarakat) bermacet-macetan asal aman, daripada mereka harus menumpuk di halte atau di dalam kendaraan umum. Kalau jaga jarak soalnya orang Indonesia kurang disiplin. Aturannya tidak tegas juga kan," ujar Timo.

Kebijakan ganjil genap tidak terlalu berpengaruh bagi dirinya dan sebagian orang Jakarta yang memiliki alternatif kendaraan pribadi lain. Timo biasanya naik motor jika pelat mobilnya tidak sesuai dengan tanggal hari itu.

"Kalau kena ganjil genap, saya naik motor. Lagi pula tidak terlalu ngaruh ya, banyak orang yang punya mobil dua," jelas dia.

Kantor Timo sebenarnya di Tangerang, namun karena ia seorang sales, ia bisa mengelilingi kota Jakarta setiap harinya. Ia pun sering melewati rute ganjil genap jika harus bertemu dengan klien di Jakarta Pusat atau Jakarta Selatan. Sepanjang jalan, seringkali ia melewati halte atau stasiun. Timo mengakui bahwa ia sering melihat terjadinya antrean yang panjang di halte atau stasiun. Menurutnya, penambahan bus yang disediakan transjakarta tidak akan berpengaruh selama ukuran halte tidak diperluas.

Penumpukan di halte, menurutnya juga akan tetap terjadi, selama waktu kedatangan transjakarta tetap lambat, tidak dipercepat.

Timo sangat khawatir dengan pengguna transportasi umum. Sebagai warga Jakarta, ia takut akan terjadi penularan yang lebih tinggi. Pasalnya, pekerjaan yang ia lakoni bukan hanya berdiam diri di kantor namun mengharuskannya bertemu dengan banyak orang, yang mana tidak tahu apakah orang yang ia temui aman atau tidak. Menurutnya, yang harus pemerintah lakukan adalah memperbaiki kualitas angkutan umum.

"Kita soalnya tidak tahu juga Covid sampai kapan jadi ya seharusnya kualitas kendaraan umum. Paling aman naik MRT menurut saya, tapi kan rutenya sedikit," ujarnya.

2 dari 3 Halaman

Dijamin Tak Ada Penumpukan Penumpang di Halte TJ

Dalam menghadapi ganjil genap, PT Transjakarta akan menambah 155 bus, selain itu sepuluh koridor yang bersinggungan langsung dengan jalur ganjil genap akan ditambah 25 persen dari total pengoperasian unit bus pada Juli.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo juga menjamin tidak akan ada penumpukan penumpang di halte bus TransJakarta ketika ganjil genap kembali. Pihaknya sudah menyiapkan bus cadangan sebanyak 10 persen dari jumlah bus yang ada. Bus cadangan tersebut disediakan untuk menjemput penumpang yang menumpuk di halte.

Berbeda dengan transjakarta yang menyediakan bus tambahan untuk mengantisipasi peningkatan penumpang, PT KCI mengatakan bahwa tidak ada peningkatan jumlah penumpang pada hari ini. Hal itu disampaikan oleh VP Corporate Communications PT KCI, Anne Purba

"Jumlah pengguna hingga pukul 07.00 WIB pagi ini tidak berbeda jauh dengan Senin pekan lalu, meskipun Senin ini bertepatan dengan hari kerja pertama usai libur akhir pekan panjang Idul Adha, dan perpanjangan PSBB Transisi DKI Jakarta yang menerapkan kembali aturan ganjil-genap di 25 ruas jalan,” kata Anne dalam keterangan tertulisnya, Senin (3/8).

Khairana Adani atau yang akrab disapa Aira, warga Bojong Gede, Jawa Barat. Biasanya, ia berangkat ke kantornya menggunakan Kereta Rel Listrik (KRL). Ia berangkat dari stasiun Bojong Gede dan turun di Stasiun Manggarai. Kantornya terletak di Pancoran, Jakarta Selatan.

Pada hari Senin ini, ia tidak ke kantor dengan KRL karena antreannya sangat panjang.

Bahkan sampai mengular ke luar stasiun. Akhirnya ia memilih untuk menggunakan bus gratis yang disediakan oleh Pemprov DKI Jakarta di Stasiun Bojong Gede. Biasanya, perjalanan menggunakan bus memakan waktu hingga 2,5 jam. Walaupun gratis, namun perjalanan menggunakan KRL lebih cepat.

"Hari ini stasiun ramai sekali, akhirnya naik bus gratis itu. Ternyata hanya 1,5 jam saja. Biasanya 2,5 jam," ujar Aira kepada merdeka.com, Senin (3/8).

Aira mengatakan, pada hari ini, jalanan terasa sepi. Ia juga menanyakan ke teman-temannya yang menggunakan kendaraan pribadi. Mereka pun mengatakan hal yang sama.

"Iya hari ini sepi jalanan. Cuma macet di Kampung Melayu saja. Saya tanya ke teman-teman yang bawa kendaraan pribadi dan kata mereka, hari ini lebih sepi dari biasanya. Mungkin karena ganjil genap," ujar wanita berusia 22 tahun itu.

Setiap hari Senin, Aira lebih sering naik KRL daripada bus karena waktu tempuhnya lebih cepat, namun saat virus Corona mewabah, ia mengakui bahwa dirinya menjadi lebih takut untuk berdesak-desakan di KRL. Ia khawatir tidak bisa menjaga jarak bila ia tetap naik KRL, apalagi pagi tadi ia melihat antrean yang sangat panjang.

Aira mengatakan sebenarnya jumlah penumpang stasiun pada hari Senin memang selalu lebih banyak dibandingkan hari lainnya. Ia melihat, tidak terjadi peningkatan jumlah penumpang yang lebih tinggi jka dibandingkan hari Senin sebelumnya.

"Sepertinya sama saja sih ya dengan minggu lalu. Kalau hari Senin memang seramai itu. Tidak tahu mengapa. Kalau hari lain tidak seramai itu. Kalau sekarang aku takut, makanya aku tetap jaga jarak sebisa mungkin kalau di transportasi umum," ujarnya.

3 dari 3 Halaman

Pilih Naik Motor

Sementara itu, Harmades Billira atau yang akrab disapa Arma merupakan seorang network engineer salah satu perusahaan swasta di Jakarta Pusat. Sebagai pengendara mobil yang terkena dampak ganjil genap, ia merasa diuntungkan dengan kebijakan ini. Ia mengakui bahwa ganjil genap bisa mengurangi kemacetan.

"Kalau saya sih mendukung kebijakan ini, menurut saya harus tetap diberlakukan ganjil genap agar tidak terlalu macet," ujar Arma.

Pada hari ini, Arma bisa ke kantor dengan aman karena pelat mobilnya ganjil. Bila tanggal genap, ia ke kantor naik motor. Jadi ia tidak naik kendaraan umum. Ia mengaku bahwa selama di perjalanan, ia sering melihat antrean transjakarta maupun KRL yang mengular panjang sampai ke jalan raya. Bahkan terkadang membuat macet jalan.

"Kalau lewat terminal atau halte, itu panjang sekali antreannya sampai ke jalan raya. Iya juga sih ya, setelah dipikir-pikir, sekarang pas ganjil genap, antrean bisa lebih panjang. Kasian juga sih ya," ujarnya.

Arma sedikit dilema, di satu sisi ia merasakan dampak positif dari ganjil genap, namun ia juga prihatin dengan pengguna transportasi umum. Ia khawatir akan terjadi penularan yang lebih cepat karena berdesakkan.

(kpl/tys)

KOMENTAR

Dapatkan Mobil Idaman DenganKondisi Istimewa
Pilih Mobilmu Sekarang

Daftarkan email Anda untuk berlangganan berita terbaru Kami