Ditolak Menkeu, Ini Alasan Kemenperin Sempat Pertahankan Usulan Pajak 0 Persen

Kementerian Perindustrian tetap berupaya mendorong relaksasi pajak 0 persen kendati Menteri Keuangan belum mengakomodir usulan tersebut.

Jum'at, 13 November 2020 20:15
Ditolak Menkeu, Ini Alasan Kemenperin Sempat Pertahankan Usulan Pajak 0 Persen Ilustrasi pameran otomotif (Otosia.com/Nazar Ray)

Editor : Nazarudin Ray

Otosia.com - Pajak kendaraan 0 persen yang ditolak Kementerian Keuangan memicu kegundahan di tengah kondisi ekonomi masa pandemi.

Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Logam Mesin Alat Transportasi dan Elektronika Kementerian Perindustrian, Taufiek Bawazier, mewakili pengusulan tersebut menjelaskan bahwa paparan dan efeknya sudah disampaikan sekalipun rencana tersebut berstatus belum diakomodasi.

"Dengan mengurangi pajak 0 persen nilai tambah yang dihasilkan juga akan besar. Kurangi sedikit tapi kita dapat banyak," ujarnya dalam Diskusi Virtual Industri Otomotif di Masa Pandemi yang diinisiasi Forum Wartawan Otomotif Indonesia (Forwot) dan Forum Wartawan Industri (Forwin), Kamis (12/11).

 

 

1 dari 4 Halaman

"Nilai tambahnya bukan hanya penjualan mobil tapi semua IKM (industri kecil menengah) dapat meningkatkan pendapatkannya, orang-orang yang kerja di IKM dan di pabrik tidak di PHK. Dia mendapatkan penghasilan, kemudian dia membelanjakan uangnya ke sektor makanan dan minuman dan sektor lainnya," lanjutnya.

Rencana yang ditolak itu sebelumnya diharapkan punya multi-layer effect economy dari pengurangan (pajak) itu. Dan itu pun, menurut dia, saat itu rencananya minta hanya untuk sementara.

"Tapi Ibu Menkeu (Sri Mulyani) sudah mengatakan belum atau tidak. Ya sudahlah kita ikutin saja policy-nya," kata dia.

 

2 dari 4 Halaman

Sekalipun rencana ini belum diakomodasi, pihaknya tetap berusaha agar sektor industri otomotif tetap tinggi. Hal itu diterapkan dengan memberikan insentif fiskal di perusahaaan, pengurangan pajak PPh, dan relaksasi bahan baku impor.

"Paling tidak kalau diusulkan itu semua sektor IKM akan mensuplay, dan menyebabkan produksi dan utilitisasinya juga naik. Jadi, kekuatan konsumen untuk membeli itu penting, Jadi kita perlu instrumen yang bisa mendukung ke arah itu," kata dia.

Jika melihat data wholesales kwartal kedua, ia menjelaskan bahwa catatan per Juni terburuk. Namun kemudian pertumbuhan 362 persen terjadi di wholesales.

 

3 dari 4 Halaman

"Di produksi juga naik 172 persen, 113.560 unit. Artinya sektor otomotif sekarang ini sudah tumbuh, tinggal kita kembalikan ke kondisi normal," ujarnya.

Akan tetapi karena keterbatasan fiskal, maka hal ini jadi belum terealisasi. Lebih jauh, ia menampik bahwa usulan tersebut menguntungkan industri otomotif belaka.

"Jadi sebenarnya konsep ini bukan dikatakan menguntungkan otomotif, ini bukan. Tapi menguntungkan subsektor yang ada di balik itu semua. Jadi nanti IKM-IKM akan bekerja dan tidak ada PHK. Ini yang menjadi perhatian. Jika utilitas pabriknya menurun, otomatis supplier-suppliernya akan kehilangan pendapatan," tekannya.

 

 

4 dari 4 Halaman

Dari data kuartal ketiga, dia berujar bahwa pasti sudah ada peningkatan-peningkatan di sektor IKM. Terlebih lagi dengan adanya Dirjen IKM, langkah ini bisa terukur.

"Tidak mungkin OEM mengerjakan sendiri, pasti dia membutuhkan supplier-supplier tier 2 dan 3. Konsep ini yang akan kita bangun sehingga fundamental ekonomi kita menjadi kuat, termasuk nanti kendaraan listrik," pungkasnya.

(kpl/nzr)

TAGS :
KOMENTAR

BERITA TERKAIT


Dapatkan Mobil Idaman DenganKondisi Istimewa
Pilih Mobilmu Sekarang

Daftarkan email Anda untuk berlangganan berita terbaru Kami