Aksi Tantra, Pembalap Cilik yang Pantang Nangis Waktu Jatuh

Tantra yang bernama lengkap Lanova Tantra M dari tim Fast Tech CLD ikut di kelas ECU standar pada HDC seri Malang

Rabu, 18 September 2019 17:45
Aksi Tantra, Pembalap Cilik yang Pantang Nangis Waktu Jatuh Lanova Tantra M (Otosia.com/Nazarudin Ray)

Editor : Ahmad Muzaki
Reporter : Nazarudin Ray

Otosia.com - Dunia balap Indonesia sedang tumbuh dan sebagai acuan adalah para rider Eropa. Inspirasi perjalanan kesuksesan mereka salah satunya karena sudah terjun ikut balap sejak usia dini.

Di Indonesia, rider usia dini beberapa kali terlihat, salah satunya Tantra di ajang Honda Dream Cup.

Tantra yang bernama lengkap Lanova Tantra M dari tim Fast Tech CLD ikut di kelas ECU standar pada HDC seri Malang, Minggu (15/9). Baginya, main bola kayak anak-anak lain enggak seru dibandingkan melihat rider MotoGP Marc Marquez.

"Yang mengarahkan ayah latihannya, latihan di Yogyakarta tiga kali seminggu setelah pulang sekolah," ujar Tantra yang saat ini kelas 5 SD.

Naik motor sejak umur 3 tahun dengan minitrail, Tantra sempat kepikiran menjadi crosser. Hanya saja ia belum yakin akan ke mana sampai akhirnya sang ayah yang mengarahkan ke road race.

"Sering jatuh termasuk waktu latihan. Pernah jatuh saat balapan di sirkuit. Rasanya kesal," celotehnya lalu menggeleng waktu ditanya apakah pernah menangis saat jatuh.

1 dari 1 Halaman

Prestasi yang Pernah Dicapai

Prestasi yang Pernah Dicapai

Pengalamannya sedang dihimpun dan sejauh ini dia sudah ikut putaran balap kelas road-race di Boyolali, Purwokerto, dan Yogyakarta.

"HDC sudah ikut di Purwokerto, prestasinya juara 3-4," ujarnya.

Ternyata minat Tantra untuk ikut dunia balap menurun dari kegemaran sang ayah yang suka dengan dunia otomotif dan balap.

"Ayah bekerja di bengkel mobil dan juga suka balap off-road," kata rider penunggang Honda Supra GTR 150 ini.

Anak kedua dari dua bersaudara ini juga tidak jarang dapat wejangan dari ibu. Dunia balap bagaimanapun menguras fisik, sekalipun di sisi lain dia bercita-cita jadi pilot.

"Ibu suka deg-degan dan berpesan tenang. Kalau besar mau jadi pilot. Jadi pembalap ya mau. Nek ga dadi pilot ya dadi pembalap (kalau tidak bekerja menjadi pilot ya jadi pembalap)," ujarnya dengan bahasa dan logat Jawa.

(kpl/nzr/ahm)

KOMENTAR

Dapatkan Mobil Idaman DenganKondisi Istimewa
Pilih Mobilmu Sekarang

Daftarkan email Anda untuk berlangganan berita terbaru Kami