5 Julukan 'Nyeleneh' Mobil-mobil Klasik di Indonesia

Masyarakat Indonesia yang terkenal heterogen dan sejak dahulu kaya akan bahasa, selalu memiliki cara-cara unik untuk mengingat benda-benda yang menurut masyarakat dianggap penting.

Selasa, 05 Januari 2016 16:45
5 Julukan 'Nyeleneh' Mobil-mobil Klasik di Indonesia Ilustrasi Mobil-mobil Klasik

Editor : Nurrohman Sidiq

Otosia.com - Indonesia kaya akan keragaman budaya dan juga peradaban yang selalu tumbuh dan berkembang mengikuti arus perkembangan zaman. Di balik dimensi yang kian bergerak dinamis tersebut, ternyata memiliki andil besar dalam perkembangan industri otomotif Tanah Air.

Masyarakat Indonesia yang terkenal heterogen dan sejak dahulu kaya akan bahasa, selalu memiliki cara-cara unik untuk mengingat benda-benda yang menurut masyarakat dianggap penting. Mobil adalah salah satunya.

Ketimbang menggali memori tentang nama mobil yang acap kali menyulitkan untuk diingat, masyarakat lebih senang mengganti nama mobil yang saat itu sedang populer dengan nama benda lain yang dianggap serupa atau mirip.

Oleh karenanya, tak heran jika mobil-mobil masa lalu kerap diidentikkan dengan nama-nama binatang atau istilah lain, hingga menjadi julukan 'nyeleneh' yang masih sangat populer hingga saat ini.

Berikut lima mobil dengan julukan 'nyeleneh' versi Otosia.com:

1 dari 5 Halaman

Truntung

Truntung

Nama Truntung sebenarnya berasal dari suaranya yang selalu terdengar seperti "Turuntung..tung.tung". Ia sebenarnya adalah Suzuki ST20 yang pernah berjaya di era tahun 1980-an.

Kerasnya suara tersebut hingga berubah menjadi sebuah julukan berasal dari mesinĀ 550cc 2 langkah persis seperti Mitsubishi Minicab.

Dengan konfigurasi mesin yang masih sangat sederhana ditambah dengan silinder yang hanya terdiri dari dua unit saja, Suzuki Truntung terkenal berisik tapi cukup handal dalam hal tenaga.

2 dari 5 Halaman

Tuyul/Cetol/Unyil

Tuyul/Cetol/Unyil

Entah siapa orang pertama menyebut Daihatsu S78 ini dengan nama tuyul. Di Indonesia, istilah tuyul mahsyur dengan jenis mahluk halus yang selalu identik dengan anak kecil berkepala pelontos alias tanpa rambut.

Tapi uniknya, nama tersebut justru disematkan untuk sebuah mobil pick-up sehingga bukan terkesan seram tapi malah terdengar lucu.

Lampu depan Daihatsu Tuyul masih memakai model lawas berbentuk bulat dengan ornamen depan polos yang minim dengan lekukan atau kurva-kurva tajam. Mungkin itu juga yang membuatnya terlihat polos dan tekesan seperti pelontos.

Sama seperti Suzuki Truntung, dapur pacu Daihatsu Tuyul mengadopsi konfigurasi 2-tak sehingga suara mesinnya terdengar lebih kasar.

3 dari 5 Halaman

Curut

Curut

Orang Indonesia di masa lalu terkenal tidak suka dengan nama rumit dan sulit diucapkan. Seperti halnya Datsun 120Y (B110) yang menggunakan gabungan antara angka dan huruf hingga terkadang menyulitkan untuk diingat.

Demi memudahkan untuk mengingat namanya, masyarakat malah mengenal mobil Datsun ini dengan istilah 'curut', yang merupakan nama jenis tikus.

Penamaan tersebut rupanya diidentikkan dengan model moncong depan mungil dengan mata bulat dan lekuk tubuh melandai persis seperti wujud tikus curut.

Nama besarnya sebagai salah satu varin Datsun, selaras dengan kejayaan produsen tersebut yang pernah berjaya di tahun 1970-an.

4 dari 5 Halaman

Lele

Lele

Ikan lele merupakan jenis hewan yang sangat populer sebagai lauk makanan yang lezat dan menggungah selera. Tapi siapa sangka bahwa bentuknya yang aneh dan berbahaya jika dipegang dengan tangan telanjang itu diidentikkan seperti bentuk mobil.

Nama mobil lele tersebut rupanya diberikan untuk Toyota Crown generasi ke-4 berjenis sedan MS60 dan MS65 sehingga ia kerap kali dikenal sebagai Toyota Crown Lele atau Crown Lele.

Penamaan Crown Lele sebenarnya berasal dari bentuk spion utama yang terbilang tidak biasa karena terletak di ujung moncong kap mobil. Apalagi bentuknya yang unik semakin menimbulkan kesan jika spion tersebut mirip dengan kumis ikan lele.

5 dari 5 Halaman

Doyok/Bajul

Doyok/Bajul

Nama Kijang Doyok disematkan pada generasi pertama keluarga Toyota Kijang yang asli dan lahir di Indonesia hasil kerjasama dengan produsen Jepang pada tahun 1977. Padahal, kata Doyok tersebut diambil dari seorang tokoh komedian nasional bernama Doyok yang memiliki nama asli Sudarmadji.

Saking unik bentuknya, nama Kijang ini pun semakin bervariasi d hingga muncullah Kijang Bajul (karena kap mesin depan yang bisa dibuka) hingga Kijang Kotak akibat modelnya yang terkesan boxy.

Sekarang ia lebih dikenal sebagai mobil antik yang sudah jarang dimiliki. Tak heran jika para pemilik mobil lebih sering melakukan restorasi dan menyimpannya sebagai barang koleksi yang tidak pernah punah popularitasnya ditelan zaman.

(kpl/sdi)

KOMENTAR

Dapatkan Mobil Idaman DenganKondisi Istimewa
Pilih Mobilmu Sekarang

Daftarkan email Anda untuk berlangganan berita terbaru Kami