UPDATE: 10 Jenis Pengendara Motor yang Perlu Diwaspadai

Sudah tidak taat peraturan, membahayakan banyak pengguna jalan lainnya. Semoga spesies biker-biker seperti ini segera ditindak pak Polisi ya, Otolovers!

Kamis, 02 April 2015 11:30
UPDATE: 10 Jenis Pengendara Motor yang Perlu Diwaspadai biker berbahaya (Foto: Istimewa)

Editor : Fajar Ardiansyah

Otosia.com - Akhir-akhir ini, penggunaan motor memang semakin marak. Mengingat kepraktisan dan harganya yang relatif murah serta maintenance yang juga tidak terlalu butuh biaya dan usaha yang terlalu tinggi, membuatnya disukai banyak kalangan.

Sayangnya, kemudahan dalam memiliki kendaraan roda dua tersebut seringkali disalahgunakan oleh level masyarakat yang seharusnya tidak menggunakan sepeda motor dalam melakukan aktifitasnya. Alasannya simple, apa yang mereka lakukan dengan bagaimana mereka menggunakan motornya sering tidak selaras dan malah beberapa momen membahayakan pengguna jalan yang lain.

Di bawah ini adalah 10 jenis pengguna sepeda motor yang mampu meningkatkan potensi emosi, hilang konsentrasi, dan yang paling membahayakan adalah kecelakaan. Otolovers jangan segan-segan untuk menegur mereka kalau ada yang seperti ini di jalan

1 dari 11 Halaman

Anak SD

Anak SD

Sudah jelas, range usia SD mentok adalah 12-14 tahun. Kalau ada yang SD sudah punya SIM, mungkin dia adalah salah satu ketua geng di sekolahnya yang notabene sudah setingkat asisten dosen tapi tidak segera naik kelas.

Model-model pengguna motor seperti ini labilnya luar biasa. Terkadang karena saking asyiknya mengendarai motor, mereka dengan semangat 45 memacu gas hingga nyaris di angka 80-100 km/jam, padahal secara fisik dan mental anak-anak ini masih belum dewasa.

2 dari 11 Halaman

Cabe-Cabean

Cabe-Cabean

Kalau yang satu ini ada dua alasan mengapa 'cabe-cabean' harus diwaspadai saat mereka yang seringkali berboncengan tiga atau empat orang eksis di jalanan. Yang pertama karena mereka sering tidak memakai helm, dan yang kedua karena mereka suka pakai hot pants alias celana ekstra pendek.

Yang seperti ini seringkali membahayakan dengan cara menyetir mereka yang sembrono, terkadang sambil menggunakan handphone, dan yang lebih jauh lagi membahayakan mata para biker pria yang sering tidak full-concentration sehingga mode Auto Pilot di otak mereka rusak.

3 dari 11 Halaman

Ibu Ibu Bermotor

Ibu Ibu Bermotor

Bukan bermaksud untuk mendiskriminasi hak dan gender seorang wanita, tapi ibu-ibu yang sering memilih untuk membawa motor atau mobil, sering menunggangi kendaraannya dalam kondisi tidak stabil. Biasanya ibu-ibu tersebut berkendara di jalur yang sering salah. Terkadang sein ke kiri, tapi belok ke kanan. Random!

Sudah begitu, ibu-ibu memakai matic seringkali tidak memiliki SIM, ditambah dengan jargon 'alon-alon asal kelakon', sudah mengendarai motor atau mobil di tengah-tengah, lambat pula. Para pengendara yang biasanya berjalan di belakang ibu-ibu macam ini akan mengalami siksaan fisik dan batin.

4 dari 11 Halaman

Handphone Freak

Handphone Freak

Tipe pengendara motor seperti ini menjengkelkannya minta ampun. Saat banyak kendaraan dan ramai di tengah jalan, masih sempat-sempatnya menggunakan handphone untuk telepon, sms, atau yang lebih parah untuk melakukan selfie.

Padahal sudah jelas, korban yang berjatuhan karena tidak konsentrasi dalam mengendarai motor sudah tidak tanggung tanggung jumlahnya. Hal ini malah sering tidak digubris oleh banyak orang yang sok sakti untuk berkendara sambil main ponsel.

5 dari 11 Halaman

Remaja Tanggung

Remaja Tanggung

Setelah ada anak-anak SD yang bahkan belum tahu bagaimana menulis dengan rapi di buku halus mencoba peruntungannya di aspal jalanan, ada para rider usia remaja tanggung antara 14-17 tahun yang sering sudah merasa dewasa untuk mengendarai motor yang mereka saja belum bisa mengendalikan beratnya.

Utamanya remaja-remaja ini mulai menjadikan sekolah jadi alasan supaya mereka diperbolehkan untuk menggunakan sepeda motor milik orang tuanya. Padahal kasusnya hampir sama dengan anak-anak SD, mereka masih terlalu labil untuk mengendarai sepeda motor.

6 dari 11 Halaman

Pasangan Berantem

Pasangan Berantem

Entah suami istri, cewek cowok, atau cuma sekedar pasangan duet dalam bernyanyi, tidak ada yang lebih 'tidak bijaksana' daripada bertengkar di atas motor, dan membuat pengguna jalan lainnya mendengarkan ocehan mereka sampai menemukan solusinya.

Repotnya adalah, orang-orang seperti ini sering bertengkar di jalan yang sarat pengguna kendaraan. Masih untung kalau misalkan drivernya kemudian mengajak berbicara di pinggir jalan, tapi tetap di atas motor.

7 dari 11 Halaman

Sahabat Ngobrol

Sahabat Ngobrol

Semua tahu bahwa persahabatan itu bagaikan kepompong, begitu kata Sindentosca, sayangnya kepompong calon kupu-kupu cantik itu tidak terlalu baik apabila dibawa-bawa sampai jalan raya juga bro. Karena persahabatan yang baik, seringkali membuat satu ruas jalan dibuat berbincang-bincang.

Hal ini jelas membahayakan dan membuat para pengguna jalan lain jadi 'gedheg' dan jengkel. Karena apabila kedua sahabat karib ngobrol di atas dua motor, akan memakan jalan lebih banyak. Solusinya sama seperti pasangan yang sedang bertengkar. Lebih baik minggir dulu, ke kafe dan kemudian ngobrol. Tapi tetap di atas motor.

8 dari 11 Halaman

Ormas dan Ekstrimis

Ormas dan Ekstrimis

Memakai sorban tidak akan membuat aspal jadi empuk. Begitulah kalimat sarkas dari salah satu stand up comedian asal Jakarta yang juga berprofesi sebagai polisi, Brigadir Ferry. Lantaran memang para anggota ormas dan ekstrimis agama di Indonesia sering berbuat dan bertindak seenaknya sendiri saat berkendara.

Hanya berbekal sorban, kain untuk dijadikan bendera, banyak sekali ormas-ormas yang sebelum melakukan kegiatan bersama-sama, mengendarai motor-motor mereka tanpa helm. Yang pertama, bahaya akan datang dari kealpaan helm yang dikenakan. Yang kedua, keberadaan bendera akan memberikan potensi bahaya lebih apabila tanpa sengaja masuk ke daerah roda.

9 dari 11 Halaman

Suporter Bola

Suporter Bola

Nyaris sama kasusnya dengan para anggota ormas, suporter sepakbola di Indonesia yang selalu setia mendampingi dimanapun timnya bertanding, pasti tidak akan sungkan-sungkan untuk datang dari jauh-jauh, beli tiket mahal dan siap beratraksi.

Tapi 'mbok ya' sadar, bahwa selain suporter bola saat konvoi, pra dan pasca pertandingan itu sering menyusahkan warga dengan mengendarai motor berbondong-bondong. Sudah ramai-ramai, sering tidak pakai helm, berkendaranya urakan. Duh pak polisi, semoga model demikian segera bisa lebih tertib.

10 dari 11 Halaman

Bedol Desa

Bedol Desa

Golongan pengendara motor yang satu ini masih sangat sering ditemui di daerah-daerah desa. Dimana memang sepeda motor masih tidak terlalu tinggi populasinya, tapi kesadaran yang ada pun juga masih tidak terlalu tinggi pula.

Berboncengan tiga saja sebelumnya sudah tidak direkomendasikan oleh aturan lalu lintas, di banyak kasus, berboncengan sampai 5-6 orang malah jadi kebiasaan. Selain membahayakan diri sendiri karena motor jadi terbebani sedemikian berat, kendali motor juga akan sering oleng dan berpotensi membahayakan orang lain.

 

11 dari 11 Halaman

Saling Dorong Berjamaah

Saling Dorong Berjamaah

Saling memberikan bantuan antar sesama bikers tentu sangat penting ketika bertemu di jalan ada yang kesulitan. Tapi kalau seperti ini ceritanya, akan sangat membahayakan pengendara lain.

 

Bayangkan saja, dua kendaraan berjajar saja sudah memakan badan jalan cukup lebar. Ditambah satu lagi seperti ini, pasti lebih lebar lagi.

(kpl/fjr)

TAGS :
KOMENTAR

BERITA TERKAIT


Dapatkan Mobil Idaman DenganKondisi Istimewa
Pilih Mobilmu Sekarang

Daftarkan email Anda untuk berlangganan berita terbaru Kami